Thursday, 5 May 2016

Da'i Selebriti

 Pembahasan

    Menjadi tanggungjawab bagi seluruh umat manusia muslim untuk menyampaikan kebaikan, kebenaran dan nasehat yang menjadi salah satu syarat untuk memasuki Surga Allah SWT yang juga merupakan tugas bagi seorang da'i seperti yang dinyatakan dalam Al-Quran Surah Al-Asr (103: 1-3)

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan nasehat menasehati, supaya mentaati kebenaran, dan nasehat menasehati, supaya menetapi kesabaran (3)

    Memahami makna sebenar dari da'i adalah orang yang mengajak, menyeru kejalan kebaikan yang berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah. Da’i yang mengajak kepada Allah adalah mereka sebagai pewaris para Nabi, yang mengajak dari jalan kesesatan menuju jalan yang benar {petunjuk} dan mereka sabar dari orang-orang yang menyakiti baik dengan ucapan atau perbuatan dan mereka yang senantiasa menghidupkan dengan kitab Allah dan menghidupkan Sunnah-sunnah Rasulullah.

    Seorang da'i haruslah benar-benar menjadi da'i yang memenuhi kriteria sebenar sebagai da'i seperti yang dimaksudkan diatas. Akhir-akhir ini muncul fenomena baru yang dikenali sebagai da'i selebritis. Da'i selebritis adalah seorang pendakwah ataupun da'i yang menyampaikan dakwahnya lebih banyak melalui media massa seperti televisi, radio dan acara lainnya. Yang mana da'i ini setara dengan artis-artis lainnya. Bedanya, artis terkenal melalui nyanyiannya atau lakonannya, manakala da'i selebritis ini terkenal dengan penyampaian dakwahnya. Da'i selebritis ini, kehidupan sehari-harinya selalu disorot dengan media. Seluruh masyarakat dapat mengetahui cara kehidupan seorang da'i itu, dari pakaiannya, makannya, bekeluarganya, dan sebagainya.

    Secara bahasa, arti kata "celebrity" adalah famous person, orang tenar. Celebrity memiliki akar kata yang sama dengan celebrate. Arti kata celebrate sendiri adalah merayakan, memberitahukan ke khalayak, atau memperingati dengan ritus atau upacara. Celebrate biasanya melibatkan dan diketahui banyak orang, bahkan (terkadang) mendapat liputan atau pemberitaan meluas sehingga semakin banyak orang yang tahu. Celebrate dan celebrity kata kuncinya adalah dikenal luas. Ciri-ciri orang tenar adalah selalu menarik perhatian publik, entah ucapannya, tindakannya, maupun kehidupan pribadinya.


Permasalahan

    Menjadi permasalahan sekarang ini adalah pro dan kontra terhadap da'i selebritis ini. Ada yang mengatakan bahwa da'i selebritis ini adalah salah satu cara berdakwah yang baik untuk menarik minat mad'u. Dan ada yang mengatakan bahwa da'i selebritis ini membawa banyak efek negatif kepada dakwah dan juga ajaran Islam itu sendiri. Sebelumnya kita harus melihat dari dua aspek positif dan negatifnya.

Positif
Mudah dalam menyampaikan dakwah. Dengan ini, dakwah yang ingin disampaikan akan lebih mudah dan jangkauannya lebih luas berbanding dengan dakwah cara biasa. Dakwahnya lebih mudah untuk diterima oleh mad'u.
Penyebaran dakwah Islam mampu bersaing dengan perkembangan zaman. Di zaman yang serba modern ini, Islam harus mampu bersaing dalam kepesatan pembangunan zaman agar tidak tertindas atau ketinggalan. Dengan adanya da'i-da'i selebritis ini dapat menghadirkan acara-acara televisi Islami dan menunjukkan cara hidup seorang muslim agar menjadi panutan untuk lainnya.
Menjadi profesi dan penghasilan rezeki. Menjadi da'i selebritis sungguh sangat menghasilkan rezeki yang melimpah ruah. Mengislamkan sebuah profesi dari artis yang notabennya negatif kearah yang positif dan Islami.

Negatif
Gaya hidup yang berubah. Dampak besar yang berlaku keatas da'i yang menjadi selebritis terlihat dari gaya hidupnya. Mungkin yang dulunya biasa-biasa saja atau sederhana, setelah menjadi selebritis semuanya serba menjadi mewah karena selalu disorot dengan kamera-kamera yang akan menceritakan kehidupan seseorang da'i itu.
Keluar dari nilai-nilai Islam. Kebanyakan para da'i selebritis ini keluar dari nilai-nilai keislaman yang mana niat asalnya adalah untuk menyebarkan dakwah tetapi malah mengejar kenikmatan dunia. Terlihat ketika sifat-sifat manusianya keluar seperti riak, takabur, sombong, dan lain sebagainya.
Memasang tarif. Sebagian da'i selebritis ada yang memasang tarif bagi setiap segmen yang dibawakan. Akhirnya, ikatan antara da'i dengan mad'u seperti ikatan bisnesman dengan pelanggannya. Dengan ini sudah terlihat bahwa keikhlasan seorang da'i itu sudah hilang.
Tidak mempunyai ilmu pengetahuan agama yang mencukupi. Kebanyakan dari da'i selebritis adalah bukan dari golongan-golongan ilmuwan agama yang mana ilmu pengetahuan agamanya sangat luas. Oleh dikarenakan cara berbicara dan penyampaian seorang da'i selebritis itu bagus dan baik, maka penyampaiannya dapat diterima. Yang menjadi permasalahan besar ketika ada diantara mereka yang menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan agama disebabkan oleh ketidaktahuan mereka.
Sekadar hiburan. Banyak di media-media sekarang, da'i selebritis ini menyampaikan dakwahnya tapi tidak mempunyai isi, hanya sekadar lelucon atau guyonan. Konsep dakwah disini terhapus serta merta karena ianya hanya sekedar hiburan untuk mencari rating penonton.

Kesimpulan

    Dalam makalah ini, penulis memihak kepada kontra tentang da'i selebritis karena banyak negatifnya daripada positifnya. Atas dasar-dasar dan sebab-sebab sebagai berikut:

Tidak memenuhi kriteria sebagai seorang da'i
Ikhlas didalam berdakwah
Mendefinisikan tujuan
Mengoleksi sifat Mujahid
Mencari ilmu yang bermanfaat
Tidak memiliki pola hidup serba sempurna
Dll.

Hilang keikhlasan dalam berdakwah. Berdakwah tidak lagi dianggap sebagai tugas yang mulia untuk mencapai ridho Allah SWT melainkan hanya sebagai profesi untuk memenuhi kebutuhan duniawi dan akhirat terlepas.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلَ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni (ikhlas) untukNya dan untuk mencari wajahNya.

وَجَآءَ مِنْ أَقْصَا الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْئَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ
Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bersegera, ia berkata: “Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tidak meminta upah (balasan) kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Dari dalil Hadits dan Al-Quran diatas kita dapat melihat bahwa Allah SWT tidak menerima suatu amalan yang tidak ikhlas dan diseru untuk mengikuti orang-orang yang tidak meminta balasan karena merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Selain ikhlas, di dalam berdakwah wajib mengikuti Sunnah Nabi SAW. Sehingga seseorang berdakwah berdasarkan ilmu, hikmah dan kesabaran. Tidak berdakwah dengan bid’ah dan kemaksiatan. Karena memang Rasulullah SAW merupakan panutan terbaik bagi umat Islam dalam segala perkara, termasuk di dalam berdakwah menuju agama Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kamu (umat Islam, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (pahala) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.









Referensi

Al-Quran Al-Karim
As-Sunnah An-Nabawiyah
http://www.kompasiana.com/tomysaleh/siapa-itu-selebritis_550ffac2a33311c137ba7e04
http://ryannugrahaabuhasan.blogspot.co.id/2011/12/kriteria-dai.html

Sunday, 6 March 2016

Hari Jadi atau Ulang Tahun datang, bergembirakah atau bersedihkah?

 
    Umur atau usia adalah jangka waktu untuk menghitung atau mengira lama keberadaan sesuatu, di mulai dari pertama kali hadirnya sesuatu sehingga perginya atau matinya sesuatu. Seperti contoh, umur manusia diukur dari kelahiran seseorang sampai pada suatu waktu yang tertentu. Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui panjang dan lamanya umur seseorang manusia kerana ia adalah rahsia Allah SWT, hanya Allah yang Maha Mengetahui. Umur seseorang telah di tentukan oleh Allah SWT dari sebelum kelahiran seseorang itu lagi yang juga disebut sebagai takdir.

    Ulang tahun mempunyai makna yang global. Tidak hanya untuk memperingati kelahiran seseorang, tetapi juga perkahwinan, pembangunan kerjaya, pendirian bangunan termasuklah pacaran (couple) untuk anak-anak muda illegal sekarang dan banyak lagi. Biasanya umat manusia akan meraikan dan menyambut kedatangan ulang tahun ini dengan  pelbagai cara dan juga dengan pemberian hadiah.

    Ketika datangnya saja hari ulang tahun seseorang, sudah pasti banyak ucapan dan wish-wish (doa-doa) yang diterima daripada kerabat keluarga, sahabat handai, workmates dan banyak lagi. Sambutan yang diadakan juga pasti meriah. Objek yang selalu digunakan dalam sambutan ulang tahun adalah kek dengan adanya lilin yang dinyalakan kemudian ditiup setelah dinyanyikan lagu "Happy Birthday". Dengan hadirnya media sosial seperti sekarang ini, sudah pasti ramai postingan di wall-wall media sosial. Foto-foto sambutan ulang tahun dengan kegembiraan sudah pasti di share. Malah ada yang menyambut ulang tahun tidak hanya sekali, berkali-kali. Untuk menunjukkan betapa berharaganya dia dengan kelahirannya di dunia ini.

    Seseorang jadi sangat sensitif apabila orang yang disanyanginya lupa akan hari ulang tahunnya. Ini biasanya terjadi kepada pasangan-pasangan couple/pacaran (illegal) boleh musnah gara-gara lupa akan hari ulang tahun kekasihnya. Disini penulis menyimpulkan bahwa ulang tahun adalah sesuatu yang sakral dan sangat penting bagi seseorang.

    Di sini penulis tidak menyalahkan bagaimana seseorang itu hendak meraikan ulang tahunnya. Mau diraikan setiap hari juga tidak ada masalah. Tetapi penulis disini menanyakan, siapakah yang seharusnya diraikan, orang yang dilahirkan atau orang yang melahirkan (ibu)?. Di sini menjadi tanda tanya besar bagi penulis secara peribadi. Ibu adalah orang yang telah berjuang mati-matian untuk melahirkan kita. Kalau kita mempunyai akal sihat, yang harus diraikan itu adalah orang yang melahirkan (ibu) bukan orang yang dilahirkan. Umumnya bahkan boleh dikatakan tiada satupun manusia ketika hari ulang tahunnya datang, mengucapkan terima kasih atau penghargaan kepada ibunya yang telah melahirkannya.

    Kemudian, ketika ulang tahun datang, perlukah kita bergembira atau bersedih? Secara umumnya, manusia akan bergembira. Tapi sebenarnya apakah yang mereka gembirakan dan raikan. Ulang tahun datang adalah sebagai tanda bahwa bilangan umur bertambah dan umur kita semakin berkurang. Itu bermaksud kita sudah semakin dekat dengan kematian. Jadi apakah orang-orang yang bergembira ini bergembira dengan semakin dekatnya dia dengan kematiaanya? Mungkin juga dia bergembira dengan semakin dekatnya dia untuk meninggalkan dunia ini yang penuh dengan kefanaan, penipuan dan kejahatan.

    Inti sebenar dari ulang tahun adalah rasa syukur kita kepada Allah SWT yang masih memberikan kita kesempatan untuk bertaubat, nikmat yang telah diberikan selama ini, kebahagian dalam merasakan kehidupan di dunia ini. Jika berbicara tentang hukum, ulama ada yang membolehkan dan ada juga yang tidak. Kembali kepada bagaimana kita meraikannya. Jika diraikan dengan maksiat, maka sudah pasti haram hukumnya. Jika dengan tasyakuran, boleh-boleh saja. Allahu A'lam Bissowab.

Tuesday, 2 February 2016

The Untold Stories of Makkah (Part I)

 
Makkah adalah negeri yang mulia dan tanah haram yang agung ini mempunyai banyak nama, seperti Massasah, Al-Hatimah, Al-Haram, Shalah, Al-Basah, Ma’az, Ar-Ra’as, Kuusa dan banyak lagi. Allah SWT sendiri memberi nama kota ini dengan 5 nama, yaitu Makkah, Bakkah, Al-Balad (kota), Al-Qaryah (negeri), Ummul Qura (ibu negeri).

Makkah dan Madinah disebut “Haramain” (dua tanah haram). Disebut haram kerana di tanah itu diharamkan melakukan perbuatan-perbuatan yang jika dilakukan di tanah lain hukumnya boleh-boleh saja. Contohnya berburu, seseorang yang berada di tanah haram tidak boleh berburu atau membunuh binatang yang mana di tempat selain tanah haram diperbolehkan dan tidak bermasalah. Selain itu, ia juga memiliki arti bahawa orang-orang kafir atau non-muslim tidak boleh memasuki wilayah ini.

Haramain adalah tempat yang mana Dajjal tidak dapat memasukinya. Sebagaimana yang kita ketahui bahawa menjelang hari kiamat, Dajjal akan datang untuk menyebarkan fitnah, membuat kerosakan dan mengkafirkan manusia. Hal ini disebutkan dalam kitab Shahih Al-Bukhari bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada satu negeri pun kecuali dia akan diinjak tanahnya oleh Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Sebab, tidak ada satu celah pun di antaranya kecuali di sana ada malaikat yang berbaris menjaganya”. (H.R Al-Bukhari)

            Empat Astonaut Rusia (Andrey Borisenko, Alexander Samokutyaev, Anatoly Ivanishin dan Anton Shkaplerov) menceritakan pengalaman selama berada di luar angkasa dengan penemuan yang menghebohkan dunia apabila terakam Makkah dan Madinah sebagai dua kota yang paling bersinar di dunia. Manakala astronaut dari Amerika keturunan India, Sunita Williams bukan saja menggambar terangnya Makkah dan Madinah tetapi juga menangkap suara azan ketika gelombang suara dari bumi tidak mampu merambah luar angkasa.

            Allah SWT telah menetapkan Makkah sebagai tanah haram semenjak Allah menciptakan langit dan bumi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA berkata, “Tatkala Allah SWT memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya SAW dengan menaklukkan kota Makkah, lalu Rasulullah SAW berdiri dihadapan orang-orang kemudian beliau mengucapkan Alhamdulillah dan memuji asma Allah, lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT telah menghalangi tentera bergajah masuk ke Makkah dan Allah SWT telah menaklukkan Makkah untuk Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman dan sesungguhnya tidak dihalalkan bagi orang sebelumku untuk menyerbu Makkah, hanya dihalalkan satu saat saja khusus untukku pada hari ini dan sesungguhnya tidak dihalalkan lagi untuk siapa pun setelahku. Maka dilarang mengusir haiwan buruannya, dilarang memotong tumbuh-tumbuhannya dan barang yang tercicir tidak halal dipungut kecuali bagi orang yang berniat mencari pemiliknya. Dan siapa yang keluarganya mati dibunuh, maka mereka mempunyai dua pilihan; menerima diyat (denda 100 ekor unta) atau qishash”. (Muttafaq alaih)

            Keharaman Makkah mempunyai batas-batas yang diletakkan pertama kali oleh Nabi Ibrahim AS yang ditunjukkan oleh Malaikat Jibril. Batas-batasnya adalah:
1.     Arah Barat, jalan Jeddah-Makkah, di Asy-Syumaisi (Hudaibiyah), yang berjarak; 22 km dari Ka’bah.

2.     Arah Selatan, di Idha’ahiben, jalan Yaman-Makkah untuk yang datang dari Tihamah, yang berjarak; 12 km dari Ka’bah.
3.     Arah Timur Laut, jalan Ji’ranah dekat dari kampong Syara’I Al-Mujahidin, berjarak; 16 km dari Ka’bah.
4.     Arah Utara, batasnya adalah Tan’im, yang berjarak; 7 km dari Ka’bah.

Bila seseorang yang merasa ketakutan memasuki kota ini, maka ia akan merasa aman dari segala keburukan. Para ulama bersepakat (ijma) akan hal, barang siapa yang berbuat keburukan/jenayah di tanah haram, maka ia tidak akan mendapatkan rasa aman kerana ia telah merosakkan kehormatan tanah haram. Adapun apabila seseorang melakukan keburukan/jenayah di luar kawasan ini kemudian ia mencari suaka ke tanah haram, maka haruslah bagi setiap muslimin memboikot orang tersebut sehingga orang itu keluar dari tanah haram, lalu dilaksanakan hukum terhadap orang tersebut. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: “Siapa yang melakukan suatu tindakan kejahatan, kemudian datang ke Baitullah agar mendapat perlindungan, maka dia aman dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin memberi hukuman padanya, hingga dia keluar dari tanah haram dan apabila dia telah keluar, maka dibolehkan menghukumnya”.


Sumber:
Teguh Sutanto, The Untold Stories of Makkah: Misteri-Misteri Kota Makkah dan Madinah, Jogjakarta, 2013

Saturday, 23 January 2016

Asal usul kalendar Masehi (Kristologi)



            Perkataan Masehi digunakan oleh umat Kristian awal untuk menetapkan hari kelahiran Yesus yang dalam bahasa latin disebut Anno Domini (AD) yang berarti “Tahun Tuhan Kita” atau Common Era/CE (Era Umum) untuk era Masehi dan Before Christ/BC (sebelum kelahiran Kristus) atau Before Common Era/BCE (Sebelum Era Umum).

            Kalendar Masehi mengikuti putaran matahari. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat pada abad ke-8. Pada tahun 527 M, Dionisius Exoguus (Biarawan Katolik) ditugaskan oleh pimpinan Gereja untuk membuat perkiraan tahun dengan berpusatkan pada tahun kelahiran Nabi Isa A.S (Yesus) dan mula digunakan untuk mengira tanggal Paskah (Computus) berdasarkan tahun berdirinya Roma.

            Awalnya, perkiraan hari Orang Romawi terbahagi kepada 10 bulan saja (kecuali Januari dan Februari). Perkiraan bulan Masehi ini ada hubungannya dengan dewa bangsa Romawi dan berdasarkan urutan susunan bulan.

Penanggalan Gregorius
Hari
Asal usul nama bulan
January
Janus (Dewa pertama dan terakhir bangsa Romawi)
February
Februus (Dewa kematian dan pemurnian Romawi, yang juga menjadi dewa bangsa Etruskan). Bulan ini menjadi bulan perayaan ritual pemurnian di Romawi yang dirayakan setiap tanggal 15 bulan ini.
March
31
Mars (Dewa perang Romawi)
bahasa Latin: aperire yang artinya membuka. Bulan April (Aprilis) dalam kalendar Romawi merupakan penghormatan untuk dewi Venus. Kata April diambil dari nama Venus dalam bahasa Yunani yaitu Aphrodite (Aphros).
May
31
Maia Maiestas (Dewi Romawi)
June
30
Juno (Dewi Romawi, isteri Jupiter (mitologi))
July
31
Julius Caesar (diktator Romawi) (bulan ini sebelumnya disebut Quintilis, bulan ke-5 kalendar Romawi)
August
Augustus (Kaisar Romawi pertama) (bulan ini sebelumnya disebut Sextilis, bulan ke-6 kalendar Romawi)
30
Septem (bahasa Latin untuk tujuh, bulan ke-7 kalendar Romawi)
31
Octo (bahasa Latin untuk delapan, bulan ke-8 kalendar Romawi)
30
Novem (bahasa Latin untuk sembilan, bulan ke-9 kalendar Romawi)
December
31
Decem (bahasa Latin untuk sepuluh, bulan ke-10 kalendar Romawi)
Total
365/366


            Pada zaman dahulu permulaan penanggalan Masehi jatuh pada bulan Mac. Penanggalan yang awalnya 10 bulan kemudian berkembang menjadi 12 bulan dengan tambahan 2 bulan yaitu Januarius dan Februarius. Januarius adalah nama dewa Janus yang berwajah dua yang menghadap kedepan dan kebelakang, sehingga dapat memandang masa lalu dan masa depan. Kerananya bulan Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama. Februarius diambil dari upacara Februa yaitu upacara pembersihan untuk menyambut kedatangan musim bunga. Dengan ini Februarius menjadi bulan yang kedua sebelum musim bunga datang pada bulan Mac.

            Ketika Julius Caesar berkuasa, ia menerima anjuran para ahli perbintangan Mesir untuk memperpanjang tahun 46 SM menjadi 445 hari dengan menambah 23 hari pada bulan Februari dan menambah 67 hari antara bulan November dan December. Setelah kembali ke Roma, beliau mengeluarkan maklumat penting dan berpengaruh luas hingga kini yakni penggunaan sistem matahari dalam sistem penanggalan seperti yang dipelajarinya dari Mesir.

            Keputusannya ketika itu, setahun berumur 365 hari atas alasan, bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hari. Kedua, setiap 4 tahun sekali, umur tahun tidak 365 hari tetapi 366 hari yang juga disebut tahun loncat. Tahun loncat ini sebagai penampungan kelebihan 6 jam setiap tahun yang dalam 4 tahun menjadi 4x6=24 jam atau 1 hari.

            Kerana jasanya, maka penanggalan itu disebut penanggalan Julian dengan mengganti nama bulan ke-7 yang asalnya Quintilis menjadi Julio. Waktu terus berjalan, tanpa diduga, penanggalan Julian juga memperlihatkan kemelesetan apabila pada zaman Julius Caesar jatuhnya musim bunga mundur hampir 3 bulan, menyebabkan musim bunga dirasakan maju beberapa hari dari pemusatan yang telah ditentukan. Ini mengakibatkan perayaan Paskah tidak tepat kerana kalendar Julian berlangsung selama 365,25 hari, yang menyebabkan setiap satu millennium akan terlebih 7-8 hari.

            Untuk meluruskan kemelesetan, Paus Gregorius XIII ketua Gereja Katolik di Roma setelah diusulkan oleh seorang Doktor dari Napoli, Italia yang bernama Aloysius Lilius pada tanggal 24 Februari 1582 membetulkan dan mengeluarkan sebuah keputusan. Pertama, angka tahun pada abad pergantian yakni angka tahun yang berakhir dengan 2 kosong, yang tidak habis dibahagi 400, contohnya 1700, 1800 dan selanjutnya, tidak lagi sebagai tahun loncat (catatan: jadi tahun 2000 yang habis dibahagi 400 adalah tahun loncat). Kedua, untuk mengatasi keadaan darurat pada tahun 1582 itu diadakan pengurangan sebanyak 10 hari jatuh pada bulan October. Pada bulan October 1582, setelah tanggal 4 October 1582 (Kamis) langsung ke tanggal 14 October 1582 (Jumat). Ketiga, Paus Gregorius XIII menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru yang bermula pada tahun 1622. Berarti pada perkiraan Dionisius Exoguus terhapus. Tahun baru bukan lagi 21 Mac seiring dengan pengertian kelahiran Nabi Isa A.S (Yesus) dan permulaan musim bunga yang sudah disetujui sejak Konsili Nicea I pada tahun 325.

            Penanggalan tahun Masehi yang dipakai saat ini berdasarkan Astrologi Mesopotamia yang dikembangkan oleh astronaut-astronaut para penyembah dewa-dewa. Setelah ditetapkannya sistem kalendar ini tidak semua Negara langsung menggunakan sistem kalendar ini. Setelah beberapa abad baru mulai banyak Negara yang menggunakan sistem penanggalan ini.



Sumber:



-       Abby Fadhillah Yahya, Mahasiswa IAIN sunan ampel, Surabaya, www.hidayatullah.com

Wednesday, 20 January 2016

Dunia vs Akhirat


    Segelintir manusia berpandangan bahwa dunia dan akhirat harus seimbang. Tidak boleh meninggalkan dunia dan tidak juga meninggalkan akhirat. Dunia yang dimaksud disinilah adalah kehidupan seperti harta, pangkat, kedudukan dan sebagainya, manakala akhirat pula lebih mencondong kearah agama, amal kebaikan, pahala dan sebagainya. Betulkah dunia dan akhirat seseorang muslim itu harus seimbang?

    Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita perhatikan beberapa ayat Al-Quran yang mengatakan tentang dunia dan akhirat.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُالْآَخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS Al-An’aam ayat 32)


انْظُرْ كَيْفَ فّضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلْأَخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَتٍ وَأكْبَرُ تُفْصِيْلاً
Lihatlah bagaimana Kami lebihkan sebahagian dari mereka atas sebahagian yang lain (dalam rezeki pemberian Kami itu) dan sesungguhnya pemberian di akhirat lebih besar tingkatan-tingkatan perbezaannya dan lebih besar tambahan-tambahan kelebihannya. (QS Al-Isra' ayat 21)


وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ ٱلأُولَىٰ
Dan sesungguhnya kesudahan keaadaanmu adalah lebih baik bagimu daripada permulaannya. (QS Ad-Dhuha ayat 4)

Dari ayat-ayat diatas kita dapat merumuskan bahwa dunia dan akhirat itu tidak sama dan maksudnya keduanya tidak boleh seimbang. Kalau kita ambil neraca penimbang, akhirat itu harus lebih berat daripada dunia.

    Dunia ini hanyalah sesuatu yang fana dan sementara. Jika kita mengejar dunia, kita tidak akan mampu mendapatkan keseluruhannya. Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa dunia adalah tempat permainan yang menipu. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara bagi seluruh manusia untuk diuji keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah S.W.T. Apakah kita lulus dengan ujiannya atau tidak? Jika kita lulus, maka syurga adalah hadiahnya, jika gagal, maka sebaliknya.

    Dunia adalah jalan menuju akhirat yang mana semua manusia harus melaluinya sebelum menuju akhirat yang kekal abadi. Dunia tidak boleh ditinggalkan kerana ia adalah proses, tapi proses ini banyak gangguan dan godaannya. Dengan perilaku dan kegiatan yang dapat memesongkan jalan kita dari tujuan asalnya. Sebagai contoh, kita dari KL nak ke airport, dalam perjalanan ke airport, banyak bangunan-bangunan megah yang terlihat, banyak mall-mall, permandangan yang indah yang membuat kita berhenti, shopping dulu, selfie-selfie dulu sehingga membuat kita lupa bahwa kita mau ke airport. Tanpa disedari waktu terus berjalan sampailah kita tertinggal flight. Sama dengan dunia, dunia banyak membuat kita lalai sampai kita lupa dengan tujuan sebenar kita. Lupa dengan Allah, kebanyakan dari kita hanya mengingatnya ketika susah, ketika perlu saja, selebihnya seperti Allah S.W.T itu tidak wujud. Di dalam Al-Quran telah disebutkan

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir/material (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS Ar-Ruum ayat 7)

    Kerjakan duniamu untuk akhiratmu bukan dunia untuk dunia. Bezakan diantara dua ini. Rasulullah S.A.W adalah contoh teladan yang paling mulia. Beliau mempunyai kedudukan, pangkat, harta, kemasyhuran, tapi apakah beliau sombong, takabbur, riya', tidak sama sekali. Kalau mau kita berfikir, Rasulullah S.A.W sangat berpotensi untuk melakukan semua jenis penyakit hati itu. Beliau mampu untuk membangun rumah mewah, beliau mampu memakai pakaian-pakaian yang mahal, beliau mampu untuk makan yang sedap-sedap, tapi apakah beliau melakukan itu? tidak sama sekali. Apakah Rasulullah S.A.W tidak mampu (miskin)? Kalau pun Rasulullah miskin, beliau masih mampu meminta kepada sahabat-sahabatnya yang kaya raya seperti Ustman. Kalau tidak pun, Rasulullah mampu untuk meminta kepada malaikat ataupun langsung kepada Allah S.W.T. Tapi satu pun tidak dilakukan oleh Rasulullah kerana sifatnya yang zuhud, sederhana dan merendah diri.

    Ada satu kisah ketika Rasulullah pulang ke rumah bertanya kepada Aisyah, wahai Aisyah ada makanankah yang boleh untukku makan? aku belum makan. Aisyah berkata, tidak ada ya Rasulullah. Rasulullah S.A.W pun menjawab, tidak apa, jadi hari ini aku berpuasa. Rasulullah S.A.W pernah mengikat perutnya sampai mengganjalkan perutnya dengan batu kerana lapar. Walaupun Rasulullah S.A.W lapar, tapi beliau tidak pernah meminta-minta.

    Dari kisah dan contoh daripada Rasulullah S.A.W tadi, beliau lebih mementingkan akhirat daripada dunia. Dunia hanyalah lapangan untuk meramal soleh, oleh itu jangan sampai kita dilalaikan dengan godaan dunia. Apalagi sekarang hidup dizaman yang serba maju dan modern. Makannya maunya di McD, minumnya maunya di Starbucks, HPnya Iphone 6s, semuanya serba mahal dan tidak terlepas dari sifat riya' dan takabbur disitu. Menjadi manusia sederhana tidak bermakna kita miskin. Mempunyai kekayaan dan harta itu harus, tapi hendaknya digunakan untuk akhirat, seperti bersedekah, membangun masjid, sekolah dan sebagainya.

    Dekatkanlah diri kepada Allah S.W.T dan mencuba untuk mencintai-Nya. Karena kecintaan kepada Allah lah yang akan membawa kita kepada masa depan akhirat yang cerah. Seperti Rabiyatul Adawiyah (Sufi perempuan pertama) pernah berkata "Aku mengabdi kepada Allah bukan kerana aku takut akan neraka-Nya dan bukan juga kerana syurga-Nya, tapi aku mengabdi kepada-Nya kerana aku mencintai-Nya". Disinilah kenikmatan yang sebenarnya seperti sepasang kekasih yang sedang kemaruk asmara. Memang tidak mudah untuk mencapai ketahap itu, tapi setidaknya kita mencuba mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan segala suruhannya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Tinggalkan dosa besar, kemudian kecil dan hal-hal yang syubhat, In Shaa Allah akan membuat kita tenang didunia apalagi nanti di akhirat.

Allahu A'lam Bissowab
Semoga bermanfaat

Sumber :
- Al-Quran Al-Karim
- Prof. Dr. H. M. Amin Syukur, M.A, Menggugat Tasawuf : Sufisme dan Tanggungjawab Sosial
- M. Subkhan Anshori, Lc, M.Si, Tasawuf dan Revolusi Sosial
- Mata Kuliah Ilmu Tasawuf oleh Dr. Nur Hadi Ihsan MIRKH, dosen UNIDA GONTOR

Sunday, 17 January 2016

Ibn Miskawaih (Tugas Filsafat Akhlak III)

             Seorang filsuf muslim yang dianggap mampu memadukan dua tradisi Yunani dan Islam dan juga ahli dalam filsafat Romawi, India, Arab dan Persia, beliau adalah Abu Ali Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’qub Ibn Miskawaih yang lebih dikenali sebagai Ibn Miskawaih. Beliau di lahirkan di Ray (Teheran, Iran) pada 330 H/942 M dan wafat pada 421 H/1030 M di Asfahan. Beliau hidup di zaman pemerintahan Dinasti Buwaihiyah (320-450 H/932-1062 M) yang mana pembesarnya bermazhab Syi’ah. Beliau adalah seorang keturunan Persia, yang konon dulu keluarganya beragama Majusi kemudian pindah ke dalam Islam.

            Beliau mendapatkan gelar “Al-Muallim As-Tsalis” (guru ketiga) setelah Aristoteles dan Al-Farobi dan jufa sebagai Bapa Etika Islam. Beliau merupakan seorang ilmuwan hebat, bahkan ia juga dikenal sebagai seorang filsuf, penyair, dan sejarawan yang sangat terkenal. Beliau sangat menyenangi sejarah dan filsafat. Sejak masih muda, beliau mempelajarinya dengan tekun serta pernah menjadi pustakawan Ibnu Al-Amid tempat di mana beliau menuntut ilmu dan memperoleh banyak hal positif berkat pergaulannya dengan kaum elit.

            Ketika berhijrah ke Baghdad, beliau mengabdi kepada Al-Mahalbi AL-Hasan Bin Muhammad Al-Azdi (menteri Mu’izz Al-Dawlah Bin Buwaih) pada tahun 348 H sebagai sekretaris pribadinya. Sepeninggal Menteri Al-Mahallabi, beliau kembali ke Ray yang kemudian mengabdi pada menteri Ibn Al-Amid sebagai kepala perpustakaan sekaligus sekretaris pribadinya sampai sang menteri wafat tahun 360 H. Namun, sepeninggal sang menteri Ibn Al-Amid,  putranya yang juga seorang menteri bernama Abu Al-Fath Ali Ibn Muhammad Ibn Al-Amid memenjarakannya pada tahun 366 H. Tetapi keberuntungan membawanya bertemu dengan menteri Adlud Al-Dawlah Ibn Buwaih yang menjadikannya kepala perpustakaan dan sekaligus sekretaris pribadinya. Kariernya terus menanjak dari satu menteri ke menteri yang lain dan kepada beberapa pangeran serta keluarga raja di lingkungan pemerintahan Bani Buwaih.

            Ibn Miskawaih juga seorang yang aktif dalam dunia politik di era kekuasaan Dinasti Buwaih, di Baghdad. Beliau meninggalkan Ray menuju Baghdad dan mengabdi kepada Istana Pangeran Buwaih sebagai bendaharawan dan beberapa jabatan lain. Beliau mengkombinasikan karier politik dengan peraturan filsafat yang penting. Beliau tak hanya mengabdi di Buwaih, tetapi juga di Isfahan dan Ray.

            Beliau lebih dikenal sebagai filsuf akhlak (etika) walaupun perhatiannya luas meliputi ilmu-ilmu yang lain seperti kedokteran, bahasa, sastra dan sejarah. Bahkan dalam literature filsafat Islam, tampaknya hanya Ibnu Miskawaih inilah satu-satunya tokoh filsafat akhlak. Beliau juga merupakan anggota kelompok intelektual terkenal seperti At-Tauhidi dan As-Sijistani. Beliau telah merumuskan dasar-dasar etika didalam kitabnya Tahdzib Al-Akhlaq wa Tathir Al-A’raq (pendidikan budi dan pembersihan akhlak). Manakala sumber filsafat etikanya berasal dari filsafat Yunani, peradaban Persia, ajaran Syariat Islam dan pengalaman pribadi.

            Latar belakang pendidikannya tidak diketahui secara detail, cuma sebagian antara lain terkenal mempelajari sejarah dari Abu Bakar Ahmad Ibn Kamil Al-Qadhi, mempelajari filsafat dari Ibn Al-Akhmar dan mempelajari Kimia dari Abi Thayyib. Dalam bidang pekerjaan, beliau adalah bendaharawan, sekretaris, pustakawan dan pendidik anak para pemuka Dinasti Buwaihiyyah. Beliau juga dikenal sebagai dokter, penyair dan ahli bahasa.

            Konsep pemikiran pendidikan Ibn Miskawaih adalah manusia dan akhlak. Konsep manusia adalahdaya bernafsu (an-nafs al-bahimmiyat) sebagai daya terendah, daya berani (an-nafs as-sabu’iyyat) sebagai daya pertengahan, daya berpikir (an-nafs an-nathiqat) sebagai daya tertinggi. Pemikirannya dalam bidang akhlak termasuk salah satu yang mendasari konsepnya dalam bidang pendidikan. Konsep akhlak yang ditawarkannya berdasarkan doktrin jalan tengah.

            Jumlah buku dan artikel yang berhasil ditulis oleh beliau ada 41 buah. Semua karyanya tidak luput dari kepentingan pendidikan akhlak (tahzib al-akhlak), diantara karyanya adalah:
a)     Al-Fawz al-’Akbar, Al-Fawz al-Ashghar (tentang metafisika: ketuhanan, jiwa, dan kenabian)
b)    Tartib al-Sa’adah (tentang etika dan politik)
c)     Kitab Adab al-’Arab wa al-’Ajam (tentang etika)
d)    Al-Hikmah al-Khalidah (tentang etika praksis)
e)     Maqalat fi al-Nafs wa al-’Aql (tentang jiwa dan akal)
f)     Risalah fi al-’Adalah (tentang keadilan)
g)    Al-Mustawfi (tentang sastra)
h)    Al-Jami, Al-Asyribah, Al-Adwiyah (tentang kedokteran),
i)      dll.



Sumber



Nasution, Hasyimsyah, Dr., M.A., Filsafat Islam, Jakarta: GMP, 1999.

Shubhi, Ahmad Mahmud, Dr., Filsafat Etika, Jakarta: Serambi, 2001.

http://serunaihati.blogspot.co.id/2012/10/biografi-ibnu-miskawaih-pendiri.html

Al-Farabi (Tugas Filsafat Akhlak II)


            Al-Farabi dikenal sebagai filsuf besar yang memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh. Nama sebenar Al-Farabi adalah Abu Nashr Muhammad Ibn Thorkhan Ibn Uzalagh Al-Farabi. DInamai dengan Al-Farabi kerana dihubungkan dengan Farab. Beliau dilahirkan di desa Wasij di Farab (daerah Khurasan dekat dengan sungai Situn, Transoxiana, Turkestan) pada tahun 257 H / 870 M dan beliau wafat pada 339 H / 950 M di Damaskus.

            Ayahnya adalah seorang jendral yang berbangsa Iran (Persia) pada Dinasti Samaniyyah yang menguasai wilayah Transoxiana wilayah otonom Bani Abbasiyah. Ayahnya menikahi seorang perempuan Turkistan dan kadang-kadang disebut keturunan Iran yang merupakan ibu kepada Al-Farabi. Ayahnya mengabdi pada pangeran-pangeran Dinasti Samaniyyah.

            Al-Farabi hidup seperti orang Badwi yang hidup berpindah-pindah dari satu waktu ke satu waktu. Di masa kecilnya, beliau dikenal rajin belajar, mempunyai otak yang cerdas dan menguasai beberapa jenis bahasa seperti Arab, Turki, Persi. Pendidikan dasarnya ditempuh di Farab (tempat kelahirannya) yang mana penduduknya bermazhab  Syafii. Beliau mempelajari keagamaan, bahasa, fiqh, hadits dan tafsir Al-Quran.

            Ketika Al-Farabi beranjak dewasa, beliau berhijrah dari negrinya ke kota Baghdad pada tahun 922 M yang mana pada waktu itu Kota Baghdad terkenal sebagai Kota Ilmu Pengetahuan. Di kota ini, beliau memperdalam filsafat, logika, fisika, ketuhanan, ilmu alam, kedokteran, kimia, fiqih, matematika, politik dan juga musik. Dengan kecerdasannya, beliau segera terkenal sebagai filosof dan ilmuwan. Beliau berguru kepada Ibnu Suraj dalam mempelajari tata bahasa Arab (Nahwu Shorf). Beliau belajar filsafat dan logika kepada Abu Bisyr Mattius Ibn Yunus. Beliau juga belajar kepada seorang Kristen Nestorian, Yuhana Ibn Hailan (tokoh filsafat aliran Alexandria) yang sekaligus mengajak Al-Farabi pergi ke Konstatinopel untuk mendalami filsafat. Setelah 8 tahun berada di Konstatinopel, beliau kembali ke Baghdad untuk mencurahkan diri dalam belajar, mengajar dan menulis filsafat.

            Keahliannya dalam banyak bidang keilmuan termasuk filsafat membuat filsuf yang datang setelahnya seperti Ibn Sina dan Ibn Rusyd mengambil filsafatnya. Pandangan Al-Farabi tentang filsafat dengan usahanya mengakhiri kontradiksi antara pemikiran Plato dengan Aristoteles melalui risalahnya “Al-Jami’u Baina Ra’yai Al-Hakimain Aflatun wa Aristhu”. Pengetahuan yang mendalam tentang filsafat Plato dan Aristoteles menyebabkan Al-Farabi dijuluki sebagai “Al-Mualim At-Tsani” (Guru kedua) setelah “Al-Mualim Al-Awal” (Guru pertama) adalah Aristoteles.

            Pada tahun 330 H / 945 M beliau berpindah ke Damaskus dan berkenalan dengan Saif Ad-Daulah Al-Hamdani (Sultan Dinasti Hamdan) di Aleppo. Di sini, beliau bertemu dengan para sastrawan, penyair, ahli bahasa, ahli fiqih dan cendekiawan lainnya. Di sini juga, beliau bekerja sebagai tujang kebun di siang hari dan belajar teks-teks filsafat pada malam hari. Al-Farabi juga terkenal sangat soleh dan zuhud. Kemudian sultan memberi kedudukan kepada beliau sebagai ulama istana dengan gaji yang sangat besar, tetapi beliau lebih memilih hidup sederhana dan tidak tertarik dengan kemewahan dan kekayaan. Yang mengagumkan lagi, beliau hanya memerlukan empat dirham untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari sedangkan selebihnya beliau bagikan kepada fakir miskin dan amal sosial di Aleppo dan di Damaskus. Beliau hidup di dua kota ini selama lebih kurang 10 tahun secara berpindah-pindah.

            Menjelang akhir hayatnya, Al-Farabi menetap di Damskus, Syiria hingga wafat ketika berumur 80 tahun (339 H / 950 M). Al-Farabi mencapai posisi yang sangat terpuji di Istana Saif Ad-Daulah, sehingga sang raja bersama pengikutnya mengantarkan jenazahnya ke pemakaman sebagai penghormatan atas kematian seorang sarjana terkemuka.


Sumber: