Saturday, 1 April 2017

Konsep Jalaludin Rumi tentang Cinta



 
Pendahuluan
            Cinta merupakan anugerah dari Allah SWT kepada seluruh hambanya yang hidup di muka bumi ini. Sebuah anugerah yang hanya dimiliki oleh makhluk yang bernama manusia yang menghidupkan dan memberikan harapan untuk hidup. Definisi cinta sendiri memiliki banyak makna, setidaknya ada empat makna cinta menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu; 1. suka sekali; sayang benar, 2. kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan), 3. ingin sekali; berharap sekali; rindu, 4. susah hati (khawatir); risau.[1] Para sufi juga mendefinisikan arti cinta yang berbeda-beda seperti yang dikatakan oleh Harits Al-Muhasibi “Cinta itu rasa kecenderungan kepada sesuatu secara total, lalu engkau lebih mementingkan cinta itu daripada dirimu, jiwamu atau hartamu. Kemudian, kesetiaanmu padanya, baik ketika berada di tempat sunyi atau terbuka. Lalu, pada saatnya, ia juga bisa memberitahu kepadamu tentang keteledoran cinta”. Beberapa sufi lainnya mengatakan “Cinta juga laksana api dalam hati yang dapat membakar apa saja selain yang dicintai. Cinta itu mencurahkan segala kemampuan, sedangkan kekasih itu boleh berbuat apa saja yang dimaunya.”[2]
Sebenarnya cinta itu sulit untuk didefinisikan atau dimaknai. Dengan mendefinisikannya, makna cinta itu akan semakin kabur. Definisi dari cinta adalah wujudnya itu sendiri, karena pada dasarnya definisi hanya berlaku untuk ilmu. Sedang cinta adalah sebuah keadaan perasaan yang berpendar ke dalam lubuk hati para pengagungnya. Tak ada yang dapat diutarakan kecuali perasaan cinta itu sendiri. Tak ada yang dapat dibicarakan tentangnya kecuali penjelasan tentang bekas-bekas yang ditinggalkannya, ungkapan atas buahnya dan segenap penjelasan tentang sebab-sebabnya.[3] Dalam makalah ini akan membahas lebih kepada salah seorang tokoh sufi terkenal Jalaluddin Al-Rumi dalam konsep cinta dari manifestasi, tingkatan dan dampaknya.

Biografi Singkat Jalaluddin Al-Rumi
            Nama lengkap beliau Maulana Rumi Muhammad bin Hasin Al-Khattabi Al-Bakri atau lebih dikenali Jalaluddin Rumi. Lahir di Balkh yang pada saat itu masuk dalam wilayah kerajaan Khawarizm, Persia Utara yang sekarang dikenali Afghanistan pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriyah atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya bernama Bahauddin Walad yang berketurunan Abu Bakar As-Shiddiq. Sedangkan ibunya memiliki hubungan darah dengan Ali bin Abi Thalib. Ia juga termasuk keluarga kerajaan, karena kakeknya, Jalaluddin Huseyn al-Katibi, menikah dengan putri raja 'Ala al-Din Muhammad Khawarizm Syah. Rumi memiliki benih yang unggul. Ayahnya adalah seorang cendekiawan yang saleh dan guru yang terkenal di Balkh. Dari perkawinan ini, lahirlah ayah Rumi yang bernama Muhammad, yang selanjutnya ia bergelar Baha' al-Din Walad, tokoh ulama dan guru besar di negerinya di masa itu yang juga bergelar Sultanu al-Ulama'.
Pada masa kanak-kanak, Rumi dididik sendiri oleh ayahnya yang merupakan ulama’ besar saat itu. Setelah itu oleh ayahnya, Rumi dipercayakan pada salah satu muridnya, Sayid Burhanuddin, sebelum hijrah dari Balkh. Ketika Rumi masih berusia tiga tahun, karena terancam oleh serbuan Mogol, keluarganya meninggalkan Balkh melalui Khurasan dan Suriah sampai ke Provinsi Rum di Anatolia tengah, yang merupakan bagian Turki sekarang. Mereka menetap di Qonya, ibu kota provinsi Rum. Dalam pengembaraan dan pengungsiannya tersebut, keluarganya sempat singgah di Kota Nishapur yang merupakan tempat kelahiran penyair dan ahli matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan bahwa Rumi akan masyhur yang akan menyalakan api gairah ketuhanan.
Ketika ayahnya meninggal tahun 1230 M, Rumi diangkat sebagai ganti ayahnya untuk mengajar di Madrasa-i-uba'iyyat (Khudavandgar), dan sebagai penasihat para sarjana dan mahasiswa. Selain itu, ia juga berubah profesi sebagai penyiar agama. Dari ayahnya itulah Rumi memperoleh berbagai ilmu pengetahuan jamannya, terutama ilmu kalam yang cukup mempengaruhi pola pemikiran teologinya, di samping ketekunan belajarnya di berbagai tempat dan kota serta dengan beberapa tokoh besar lainnya.[4]
            Tahun 1244 Masehi, Rumi bertemu dengan syeikh spiritual lainnya seperti, Syamsuddin dari Tabriz, yang mengubahnya menjadi sempurna dalam ilmu tasawuf. Setelah Syamsuddin wafat, Rumi kemudian bertemu dengan Husamuddin Ghalabi dan mengilhaminya untuk menuliskan pengalaman spiritualnya dalam karyanya monumentalnya Matsnawi-ye Ma’nawi. Ia mendiktekan karyanya tersebut kepada Husamuddin sampai akhir hayatnya pada tahun 1273 Masehi.[5]

Konsep Cinta Menurut Jalaluddin Rumi

a. Manifestasi
Bagaimana menerangkan cinta? Akal yang berusaha menjelaskannya adalah seperti keledai di dalam paya. Dan pena yang berusaha menggambarkannya, akan hancur berkeping-keping. Begitulah kata Maulana dalam bagian pendahuluan Matsnawi.
“Bagaimana keadaan sang pencinta?”
Tanya seorang lelaki
Kujawab, “Jangan bertanya seperti itu, sobat;
Bila engkau seperti aku, tentu engkau akan tahu;
Ketika Dia memanggilmu,
engkaupun akan memanggil-Nya”[6]
Cinta itu pra-abadi, cinta itu magnet, sejurus lamanya cinta benar-benar menyirnakan jiwa, kemudian ia pun menjadi perangkap yang menjerat burung-jiwa, yang kepada burung-jiwa inilah cinta menawarkan minuman anggur realitas, dan semua ini “hanyalah permulaan cinta, tidak ada manusia yang dapat mencapai ujungnya. Maulana suka berbincang-bincang dengan cinta untuk mencari tahu bagaimana rupa cinta itu:
Suatu malam kutanya cinta : “Katakan,
siapa sesungguhnya dirimu?
Katanya : “Aku ini kehidupan abadi,
aku memperbanyak kehidupan indah itu”
Kataku : “ Duhai yang di luar tempat,
di manakah rumahmu?”
Katanya : “ Aku ini bersama api hati,
dan di luar mata yang basah,
Aku ini tukang cat; karena akulah setiap pipi
berubah jadi berwarna kuning.
Akulah utusan yang ringan kaki,
sedangkan pencinta adalah kuda kurusku.
Akulah merah padamnya bunga tulip.
harganya barang itu,
Akulah manisnya meratap, penyibak
segala yang tertabiri.....”[7]
Rumi menyebutkan bahwa yang pertama diciptakan Tuhan adalah cinta. Dari sinilah Rumi menganggap cinta sebagai kekuatan kreatif paling dasar yang menyusup ke dalam setiap mahluk dan menghidupkan mereka. Cinta pulalah yang bertanggungjawab menjalankan evolusi alam dari materi anorganik yang berstatus rendah menuju level yang paling tinggi pada diri manusia.
Menurut Rumi cinta adalah penyebab gerakan dalam dunia materi, bumi dan langit berputar demi cinta. Ia berkembang dalam tumbuhan dan gerakan dalam makhluk hidup. Cintalah yang menyatukan partikel-partikel benda. Cinta membuat tanaman tumbuh, juga meggerakkan dan mengembang-biakkan binatang, seperti dalam karyanya:
Cinta adalah samudra (tak bertepi) tetapi langit menjadi sekedar,
Serpihan-serpihan busa; (mereka kacau balau) bagaikan perasaan
Zulaikha yang menghasrati Yusuf.
Ketahuilah bahwa langit yang berputar, bergerak oleh deburan
gelombang cinta; seandainya bukan karena cinta, dunia akan (mati) membeku
Bagaimana benda mati lenyap (karena perubahan) menjadi
tumbuhan? Bagaimana tumbuhan mengorbankan dirinya
demi menjadi jiwa (yang hidup)?
Bagaimana jiwa mengorbankan dirinya demi Nafas yang merasuk
ke dalam diri Maryam yang sedang hamil?
Masing-masing (dari mereka) akan menjadi diam dan mengeras
bagaikan es bagaimana mungkin mereka terbang dan mencari seperti belalang?
Setiap manik-manik adalah cinta dengan kesempurnaannya dan
segera menjulang seperti pohon.[8]
Cinta menurut Rumi, bukan hanya milik manusia dan makhluk hidup lainnya tapi juga semesta. Cinta yang mendasari semua eksistensi ini disebut “cinta universal”, Cinta ini muncul pertama kali ketika Tuhan mengungkapkan keindahan-Nya kepada semesta yang masih dalam alam potensial.
Keindahan cinta tidak dapat diungkapkan dengan cara apapun, meskipun kita memujinya dengan seratus lidah. Begitulah kata Maulana Rumi, seorang pecinta dapat berkelana dalam cinta, dan semakin jauh pecinta melangkah, semakin besar pula kebahagiaan
yang akan diperolehnya. Karena cinta itu tak terbatas Ilahiah dan lebih besar dibanding seribu kebangkitan. Kebangkitan itu merupakan sesuatu yang terbatas, sedangkan cinta tak terbatas.[9]
Kadang Rumi menggambarkan cinta sebagai “astrolabe rahasia-rahasia Tuhan” yang menjadi petunjuk bagi manusia untuk mencari Kekasihnya. Karena itu, cinta membimbing manusia kepada-Nya dan menjaganya dari gangguan orang lain. “Cinta” kata Rumi adalah astrolabe misteri-misteri Tuhan. Kapanpun cinta, entah dari sisi (duniawi) atau dari sisi (langit)-Nya, namun pada akhirnya ia membawa kita ke sana.[10]
Dalam bayangan Rumi, kadangkala cinta digambarkan sebagai api yang melalap segala sesuatu selain sang kekasih. Karena itu, cinta Ilahi dapat menjauhkan manusia dari syirik (penyekutuan Tuhan) dan mengangkatnya ke tingkatan yang tertinggi dari tauhid.
Menurut Rumi, cinta adalah sayap yang sanggup menerbangkan manusia yang membawa beban berat ke angkasa raya, dan dari kedalaman mengangkatnya ke ketinggian, dari bumi ke bintang Tsuryya. Bila cinta ini berjalan di atas gunung yang tegar, maka gunung pun bergoyang-goyang dengan riang.[11]
Cinta adalah penyakit, tapi ia dapat membebaskan penderitanya dari segala macam penyakit lain. Apabila penyakit cinta menimpa seseorang, maka dia tidak akan ditimpa penyakit lain, ruhaninya menjadi sehat, bahkan nyawanya adalah kesehatan, yang semua orang ingin membelinya. Demikian ia melukiskan dalam sebuah syairnya:
Perih cinta inilah yang membuka tabir hasrat pecinta;
Tiada penyakit yang menyamai duka cinta hati ini;
Cinta adalah sebuah penyakit karena berpisah, isyarat
Dan astrolabium rahasia-rahasia Ilahi.
Apakah dari jamur laut atau jamur bumi,
Cintalah yang menimbang kita ke sana pada akhirnya;
Akal kan sia-sia bahkan mengelepar tuk menerangkan cinta,
Bagai keledai dalam lumpur;
Cinta adalah sang penerang cinta itu sendiri.
Bukankan matahari yang menyatakan dirinya matahari,
Perhatikanlah ia! Seluruh bukit yang kau cari ada di sana.[12]
Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa cinta adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri. Hanya mereka yang berjubah cinta sajalah yang sepenuhnya tidak mementingkan diri.[13] Sesungguhnya, “cinta” menjadi satu-satunya kendaraan transformasi. Dalam sajaknya ia berkata:
Melalui cinta duri menjadi mawar, dan
Melalui cinta cuka menjadi anggur manis
Melalui cinta tonggak menjadi duri
Melalui cinta kemalangan nampak seperti keberuntungan
Melalui cinta penjara nampak seperti jalan yang rindang
Melalui cinta tempat perapian yang penuh abu nampak seperti taman
Melalui cinta api yang menyala adalah cahaya yang menyenagkan
Melalui cinta setan menjadi Houri
Melalui cinta batu keras menjadi selembut mentega
Melalui cinta duka adalah kesenangan
Melalui cinta hantu pemakan mayat berubah menjadi malaikat
Melalui cinta sengatan adalah seperti madu
Melalui cinta singa adalah sejinak tikus
Melalui cinta penyakit adalah kesehatan
Melalui cinta sumpah serapah adalah seperti balas kasih.[14]
Cinta seperti samudera yang tak bertepi, meskipun gelombangnya adalah darah atau api. Pecinta, ketika berenang-renang di sana, seperti ikan yang bersuka ria, berapapun banyaknya ikan itu meminum airnya, maka samudera itu pun tak akan pernah berkurang airnya, karena samudra itu awal dan sekaligus akhir segalanya.
Cinta dapat pula seperti sungai yang airnya sangat deras yang dapat mencuci bersih segalanya. Jika cinta dapat membersihkan dengan api, maka cinta pun dapat membersihkan dengan air. Sesungguhnya cinta merindukan mereka yang kotor, supaya cinta dapat membersihkan noda-noda mereka.
Cinta juga dapat dipandang sebagai pohon, sedangkan para pecinta sebagai bayang-bayangnya yang bergerak ketika dahan dan ranting pohon tersebut bergerak-gerak. Dahan dan rantingnya ada dalam pra keabadiaan, sedang akarnya dalam keabadian. Pohon tersebut tidak memiliki awal atau akhir di dunia waktu dan ruang. Di sini Rumi membuat persamaan yang sekilas bahwa cinta itu seperti tumbuhan menjalar yang sepenuhnya mengitari pohon (manusia
natural) yang menutupi pohon itu sampai kerantingnya yang terakhir, sehingga pada akhirnya yang ada hanyalah cinta.[15]
Cinta bisa tampil sebagai kekuatan feminim, sebab ia adalah ibu yang melahirkan umat manusia. Cinta adalah Maryam praabadi, yang mengandung berkat ruh suci, seorang ibu yang merawat anaknya dengan lembut.
Cinta adalah anggur dan sekaligus pelayan minuman, dan minumannya racun sekaligus obat penawar. Ia adalah anggur keras dan membawa manusia ke keabadian. Akibat anggur seperti itu,” setiap orang merasa kepanasan sehingga pakaiannya tampak terlalu ketat dan kemudian dia melepaskan penutup kepalanya dan membuka ikat pinggangnya”. Pecinta terisi anggur cinta, bahkan pecinta menjadi botol atau piala cinta itu sendiri.[16] Demikianlah Maulana dalam memperingkatkan pembacanya agar ingat bahwa orang yang tidak mabuk itu tercela dihadapan jemaah cinta.
Pada saat sampai pada puncak kemabukan cinta, maka terjadilah perkawinan jiwa yang menggambarkan persatuan mistik. Dalam persatuan inilah perbedaan antara pecinta dan kekasihnya sirna oleh perubahan ke dalam hakikat cinta universal. Dengan indahnya, Rumi menggambarkan perkawinan jiwa itu dalam sebuah syairnya:
Bahagia pada saat itu, ketika kita duduk
Bersanding dipelataran istana, Kau dan aku
Dalam dua bentuk, dalam dua tubuh, tapi satu jiwa,
Kau dan aku........
Kau dan aku, yang tak lagi saling menyendiri,
Kau hanyut dalam ekstase
tiada bandingnya lagi ......
Di satu tempat di mana kita bergerak mesra, Kau dan aku
Sungguh menakjukkan, bahwa Kau dan aku duduk di sini,
Pada sudut taman yang sama,
Berada pada saat yang sama berada di Irag dan Khurasan jua,
Kau dan aku.[17]

b. Tingkatan cinta
Abu Nashr Al-Siraj, membagi cinta (mahabbah) kepada tiga tingkatan atau tahapan. Pertama adalah al-Mahabbah al-Amah, yaitu cinta kaum awam, yang berasal dari perbuatan baik dan kasih sayang Tuhan kepada mereka. Kedua adalah mahabbah ash-Shadiqin, yaitu cinta yang bermula dari renungan hati tenang kemandirian, cinta yang dapat menghilangkan tabir antara manusia dan Tuhan dengan cara menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri lalu hatinya dipenuhi perasaan cinta kepada Tuhan dan selalu rindu kepadaNya. Ketiga adalah Mahabbah Ash-Ahiggin wa Al-Arifin yaitu cinta yang ditimbulkan oleh pengetahuan tentang keazalian dan kemutlakan cinta Allah kepada mereka.[18]
Jalaluddin Rumi, sejak kecil sudah mendapatkan pendidikan agama yang baik dari ayahnya, Bahaudin Walad, dan kemudian dari murid-murid ayahnya. Bahaudin Walad adalah seorang guru sufi dan ahli hukum yang termasyur pada waktu itu. Dengan usianya yang masih muda, ia sudah menunjukkan ketertarikan yang besar pada kehidupan religius dan kesalehan. Dari sinilah ia mengalami tingkatan cinta yang pertama.
Setelah ayahnya meninggal, Rumi mengambil alih peran ayahnya sebagai seorang guru sufi dan penasehat hukum dan mengikuti praktik-praktik sufi di jalan spritual. Di bawah bimbingan Burhanuddin, murid dari ayahnya, Rumi dalam usia 25 tahun sangat antusias terhadap berbagai disiplin dan doktrin sufi. Kemudian Rumi mengajar di Madrasahnya dan mendakwahkan Islam kepada masyarakat seperti ayahnya. Rumi juga dikenal sebagai seorang ahli fiqih yang brilian dan sekaligus filosof. Pada puncak karier intelektualnya Rumi berhasil menarik sejumlah sepuluh ribu pengikut dari segenap penjuru dan memperoleh kesohoran yang tak tertandingi dalam ilmu-ilmu Islam.
Namun kosohoran dan keluasan pengetahuan yang dimilikinya, tidak memuaskan kebutuhan jiwanya yang rindu kebebasan dan ketentraman. Ia mulai menyadari bahwa pengetahuan saja tidak mengubah manusia dan mengembangkan kepribadian manusia dengan baik karena perilaku menusia berubah seiring dengan perubahan wataknya. Ia juga mulai yakin bahwa hukum dan akal hanyalah alat yang bisa mendatangkan maslahat atau mudarat saja. Ia tidak lagi tertarik pada teologi karena menurutnya teologi hanya akan menyibukkan diri pada formalisme sehingga mereka mengabaikan makna dan mengupayakan teologi semata-mata demi memuaskan kaum awam dan menguasai mereka.[19] Bisa dikatakan bahwa pada masa ini Rumi telah mengalami tingkat cinta yang kedua.
Pada tahun 1244, Rumi bertemu dengan seorang darwis pengelana misterius, Syamsi Tabriz, dan dunia spritualnya pun mengalami revolusi besar. Menurut pendapatnya, Syams adalah orang yang memberinya bimbingan intelektual yang melegakan dan membimbingnya ke jalan yang benar. Meskipun Rumi telah mempelajari sufisme, namun hanya setelah pertemuannya dengan Syams inilah ia benar-benar melangkahkan kakinya dengan pasti pada bidang ini. Syams menjadi ilham bagi Rumi, yang membimbingnya menuju puncak pengalaman mistik. Pertemuan dengan Syams inilah yang menuntunya menuju tingkat cinta yang ketiga, dalam Matsnawi Rumi menyatakan:
“Syams dari Tabriz menunjukkanku jalan kebenaran,
dan imanku tidak lain adalah anugrahNya”.[20]
Di bawah pengaruh Syams, Rumi mulai menyadari “objek sejati” dari pencarian diri sejatinya. Dalam syair berikut, Rumi mengisyaratkan intensitas pencariannya, yang terakhir dengan hasil yang mengejutkan. Bahwa apa yang ia cari selama ini justru terdapat dalam hatinya sendiri:
Salib dan kristen dari sudut ke sudut
telah ku atasi. Aku tidak menganut salib.
Rumah berhala kukunjungi, kuil kuno;
tak ada rasa yang bisa kutangkap;
Aku mengunjungi pegunungan Herat dan Kandahar;
Aku lihat, Dia tidak di kedalaman (jurang) atau ketinggian (gunung) di sana.
Dengan niat, aku daki puncak Gunung Qaf;
di tempat itu tiada apa-apa kecuali ‘Anga’
Aku arahkan pencarianku menuju Ka’bah;
dia bukan berada di tempat orang tua dan muda yang mendapat ilham itu.
Aku tanya Ibnu Sina tentangnya,
dia di luar pengetahuan Ibnu Sina.
Aku mengunjungi ruang “persidangan”;
dia tidak ada di pengadilan Agung itu.
Aku tilik ke dalam hatiku, di sanalah aku menemukannya;
Dia tidak berada di mana-mana (di tempat lain).[21]
Syair ini pada dasarnya menjelaskan proses pencarian mistik Rumi, dari ruang lingkup eksternal agama ke dalam inti batinnya, dan transformasi jiwanya kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Melalui transformasi inilah, Rumi menyadari kekurangan hal-hal yang selama ini ia anggap hakiki.

c. Dampak Cinta
Cinta sangat berpengaruh bagi siapa saja yang mencintai. Cinta sangat luar biasa dan mengubah segalanya. Dalam hal ini Rumi menyatakan melalui syairnya:
Sungguh, cinta dapat mengubah yang pahit menjadi manis, debu
beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara
berubah menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahanmenjadi nikmat.
Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancur leburkan batu
karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan
padanya, serta membuat budak menjadi pemimpin.[22]
Dengan pengaruhnya yang luar biasa pada jiwa manusia, cinta juga
dapat mempercepat perjalanan manusia menuju Tuhan.
Cinta punya lima ratus sayap, dan setiap sayap (mengembang)
Dari atas langit ke bawah bumi.
Orang yang zuhud (zahid) berlari; kekasih (Tuhan) terbang
Lebih cepat dari kilat dan angin.
“Bebaskanlah dirimu dari dunia dan cara jalan kaki, karena
(hanya) elang sang raja yang menemukan jalannya kepada sang Maharaja.”[23]
“Cinta”, ujar Jalaluddin, adalah penyembah bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri. Hanya mereka yang berjubah cinta sajalah yang sepenuhnya tidak mementingkan diri.[24] Maka apabila sang pecinta ingin mendapatkan cinta dari kekasihnya, ia harus bisa menghilangkan kebanggaan dan kesombongan dirinya. Dan ketika kebanggaan dan kesombongan itu telah hilang, kemudian timbullah kesadaran diri. Pada saat seperti ini sang pecinta akan memiliki jiwa yang luhur dan menggantikan jiwa yang kerdil, karena jiwa yang kerdil hanyalah dimiliki oleh orang yang egois dan cinta diri. Maka cinta terhadap kekasih akan melenyapkan egoisme dan cinta diri sehingga luhurlah jiwanya.
Cinta menumbuhkan kebebasan dan jiwa untuk menjadi cinta. Cinta Rumi kepada kawannya, Syamsuddin Tabriz, membuatnya bebas untuk menemukan ungkapan jiwanya sendiri yang menemukan saluran melalui puisinya. Cinta, jiwa, dan kebebasan menyatu.
Namun, pada saat itu terjadi, kehidupan Rumi berputar balik. Setelah menyatakan kebebasannya untuk mencintai dari jiwanya, Rumi tidak lagi berperilaku layaknya syaikh yang baik dan tidak lagi peduli dengan harapan-harapan yang lazim. Ia menjadi benar-benar bebas, hanya mempedulikan jiwanya sendiri dan cintanya yang bebas kepada Tuhan. Rumi berkata:
Lagi-lagi, aku berada dalam diriku sendiri
Aku berjalan pergi, tetapi ke sinilah aku berlayar kembali,
Kaki di udara, jungkir balik,
Seperti seorang wali ketika dia membuka matanya
Ditengah doa: sekarang, ruangan,
Taplak meja, wajah-wajah yang akrab.[25]
Cinta Rumi kepad Ilahi menghendaki “keadaan mabuk” di mana keadaan ini mengisyaratkan tentang keintiman cinta Rumi kepada Tuhan. Dalam konteks ini, Rumi menerangkan simbol-simbol tertentu yang berkenaan dengan kemabukan, seperti anggur dan cawang.  “Tuhan adalah cawang dan anggur: Dia tahu cinta seperti apapun situasiku”.[26]
Dalam syair berikut, Rumi mengekspresikan ekstase yang hebat ketika anggur cinta Ilahi menyentuh jiwanya:
Rembulan yang tak pernah disaksikan langit bahkan dalam mimpi, telah kembali.
Dan datanglah api yang tak bisa dipindahkan air apa pun.
Lihatlah rumah tubuh, dan pandanglah jiwaku, Ini membuat mabuk
dan kerinduan itu dengan cawang cintanya.
Ketika pemilik kedai itu menjadi kekasih hatinya,
Darahku berubah menjadi anggur dan hatiku menjadi “kabab”.
Ketika pandangan dipenuhi ingatan kepadanya, datang suara:
Baguslah wahai cawang, hebatlah, wahai anggur![27]
Cinta ilahi membutuhkan keikhlasan yang dapat memelihara hati manusia dari syirik (kemusyrikan) dan mengantarkannya pada tingkat tauhid yang paling tinggi, yaitu ma’rifat kepada Allah (ma’rifatullah).
Rumi, ketika mabuk cinta mencapai puncaknya, perkawinan jiwa dalam penyatuan mistik terjadi. Dalam penyatuan inilah perbedaan antara pencinta dan yang Dicinta sirna oleh perubahan ke dalam Hakikat Cinta Universal.
Keadaan Rumi seperti ini, karena dipengaruhi oleh cinta yang begitu membara di hatinya. Cinta bisa mengkonsentrasikan semua daya. Dengan adanya cinta semua potensi yang dimiliki oleh sang pencinta, pikiran, perilaku dan sepak terjang pencinta akan disatukan dan dikerahkan untuk mencari sesuatu yang tidak terjangkau oleh indra lahiriah. Karana itulah hatinya hanya terisi oleh pikiran tentang ma’syuq (yang Dicintai). Di manapun, kemana pun, dan pada saat yang bagaimanapun, sang pencinta terus dibuaikan oleh hasrat cintanya untuk selalu menghadirkan sang kekasih ke dalam jiwanya.

Penutup
            Pandangan cinta menurut Jalaluddin Rumi terasa sangat dalam dan terlihat bahwa beliau telah mengalami lalu menjadi pengalaman dalam menguraikan arti cinta. Melalui syair-syairnya, beliau mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata indah sehingga melarutkan seperti cinta itu sendiri. Disini, dalam konsepnya tentang cinta membahas tentang tiga yaitu; manifestasi, tingkatan dan dampak.
Dalam manifestasinya, beliau mengatakan bahwa tuhan pertama kali menciptakan cinta. Menurutnya cinta adalah penyebab gerakan dalam dunia materi, bumi dan langit berputar. Dan cinta adalah milik manusia dan makhluk hidup lainnya sehingga disebut “cinta universal”. Keindahan cinta tidak dapat diungkapkan dengan cara apapun. Cinta juga adalah penyakit, tapi ia dapat membebaskan penderitanya dari segala macam penyakit lain dan menjadi penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri. Cinta juga bisa tampil sebagai kekuatan feminis. Rumi memperingkatkan pembacanya agar ingat bahwa orang yang tidak mabuk itu tercela dihadapan jemaah cinta.
Manakala dalam tingkatannya, Abu Nashr Al-Siraj, membagi cinta kepada tiga. Pertama, al-Mahabbah al-Amah. Kedua adalah mahabbah ash-Shadiqin. Ketiga adalah Mahabbah Ash-Ahiggin wa Al-Arifin. Jalaluddin Rumi mengalami tingkatan cinta yang pertama sejak kecil dengan mendapatkan pendidikan agama yang baik dari ayahnya, Bahaudin Walad, dan kemudian dari murid-murid ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, Rumi mengambil alih peran ayahnya sehingga tersohor dan memiliki pengetahuan yang luas. Namun, semua ini tidak memuaskan kebutuhan jiwanya yang rindu kebebasan dan ketentraman. Dikatakan bahwa pada masa ini Rumi telah mengalami tingkat cinta yang kedua. Pada tahun 1244, Syams membimbing Rumi menuju puncak pengalaman mistik yang menuntunya menuju tingkat cinta yang ketiga. Melalui transformasi inilah, Rumi menyadari kekurangan hal-hal yang selama ini ia anggap hakiki.
Dampak cinta menurut Rumi adalah penyembah bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri kecuali orang-orang yang berjubah cinta sajalah yang sepenuhnya tidak mementingkan diri. Cinta menumbuhkan kebebasan dan jiwa untuk menjadi cinta. Ketika mabuk cinta mencapai puncaknya, perkawinan jiwa dalam penyatuan mistik terjadi. Keadaan Rumi seperti ini, karena dipengaruhi oleh cinta yang begitu membara di hatinya. Dengan adanya cinta semua potensi yang dimiliki oleh sang pencinta, pikiran, perilaku dan sepak terjang pencinta akan disatukan dan dikerahkan untuk mencari sesuatu yang tidak terjangkau oleh indra lahiriah.


[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia, diambil dari http://kbbi.web.id/cinta yang diakses pada 20 Maret 2017.
[3] Syeikh Abdul Qadir isa, Cetak Biru Tasawuf : Spiritualitas Ideal dalam Islam, Ciputat Press, Ciputat, 2007, Hlm. 257.
[6] Annemarie Schimmel, Akulah Angin Engkaulah Api : Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi, Mizan, Bandung, tt, hlm. 203.
[7] Ibid., hlm. 204.
[8] Mulyadhi Kartanegara, Jalal Al- Din Rumi : Guru Sufi dan Penyair Agung, Teraju, Jakarta, 2004, hlm. 57.
[9] Annemarie Schimmel, hlm. 206.
[10] Mulyadhi Kartanegara, op.cit., hlm. 79.
[11] Syamsun Ni’am, Cinta Ilahi Perpestif Rabi’ah Al-Adawiyah dan Jalaluddin Rumi, Risalah Gusti, Surabaya, 2001, hlm. 91.
[12] Ibid, hlm. 91-92.
[13] Reynold A. Nicholson, Mistik Dalam Islam, Bumi Angkasa, Jakarta, 2000, hlm. 83.
[14] A. Reza Arasteh, Sufisme dan Penyempurnaan Diri, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 121-122.
[15] Annemarie Shcmmel, op.cit., hlm. 212.
[16] Ibid, hlm. 221.
[17] Syamsun Ni’am, op.cit., hlm. 94.
[18] Muhsin Labib, Jatuh Cinta: Puncak Pengalaman Mistik, PT. Lentera Basritama, Jakarta, 2004, hlm. 162.
[19] Mulyadhi Kartanegara, op.cit, hlm. 29.
[20] Ibid., 33.
[21] Ibid.
[22] Syamsun Ni’am, op. cit., hlm. 91.
[23] Mulyadhi Kartanegara, op.cit., hlm. 80.
[24] Reynold A. Nicholson, op.cit., hlm. 83.
[25] Denise Breton dan Christopher Largent, Cinta, Jiwa & Kekerasan di Jalan Sufi: Menari Bersama Rumi, Pustaka Hidayah, Bandung, 2003, hlm. 33.
[26] Mulyadhi Kartanegara, op.cit, hlm. 81.
[27] Ibid.

Wednesday, 4 January 2017

Tantangan terhadap Pemikiran Islam

Humanis

            Ketika perkuliahan tadi (Kamis, 5 Januari 2017) pada pelajaran Psikologi Agama yang diampu oleh Dr. Happy Susanto, M.A, saya mendapat semacam ilham untuk menulis tugas ini tentang Humanis yang dari sebelum-sebelumnya saya menganggap humanis itu tidak human. Beliau mengatakan terdapat perbedaan humanis disebabkan perbedaan dari sudut pandangnya. Jadi di sini sangat saya setuju bahwa humanis seseorang itu berbeda-beda yang mana menjadi tantangan besar terhadap pemikiran Islam.

            Seperti yang terjadi di Malaysia pada tahun 2015 yang lalu, sebuah negeri di Malaysia yaitu Kelantan mengajukan akan melaksanakan hukum hudud untuk negerinya bagi para pelaku kesalahan syariah yang mana sudah ditetapkan hukuman-hukumannya oleh Allah SWT sendiri. Walaupun mayoritas penduduk Malaysia apalagi Kelantan ini Muslim, tetapi penolakan dan tentangan hebat terjadi. Kebanyakan alasan atas penolakan hukum ini adalah tidak manusiawi. Dengan dalih-dalih kemanusiaan dapat menolak Al-Qur’an dan Al-Hadits. Di sini lah terjadi permasalahan besar dalam pemikiran umat Muslim pada akhir zaman ini. Dari pandangan positif saya, mereka-mereka yang menolak itu adalah orang yang tidak faham dengan agama, tidak tahu benar apa itu hukum hudud dan bagaimana pelaksanaannya.

            Jadi benarlah apa yang telah dikatakan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A, M.Phil, Wakil Rektor I Universitas Darussalam Gontor, “semakin religius seseorang justru ia semakin manusiawi, semakin humanis seseorang justru semakin atheis”. Secara tidak langsung tanpa kita sedari, terjadinya sekularisasi disebabkan humanis. Dengan mengedepankan humanis, agama harus disingkirkan. Bahasa yang selalu mereka lemparkan adalah “Percuma menjadi religius kalau tidak manusiawi, daripada beragama tapi jahat, lebih baik berperikemanusiaan meski tidak beragama” yang saya kutip dari Hidayatullah.com karya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A, M.Phil.

            Pandangan manusia zaman sekarang terhadap agama itu miring. Menganggap agama itu mengajarkan sesuatu yang salah, keras, sadis, radikal dengan doktrin-doktrinnya yang mana bertolak belakang dengan kemanusiaan. Contoh lainnya, ketidakadilan juga diajarkan Islam dalam pernikahan. Seorang lelaki boleh menikahi 4 wanita yang biasa disebut poligami, tetapi seorang wanita tidak boleh menikahi 4 lelaki. Bagi manusia-manusia humanis ini mengatakan ini tidak adil dan tidak manusiawi. Maka bangunlah kelompok feminis kononnya untuk membela hak mereka. Secara sepintas memang terlihat unfair disini, tapi apakah mereka tidak berfikir dari segi psikologis, physical dan juga mental. Jika seorang lelaki itu menikahi 4 wanita, kita masih bisa mengetahui siapa ibunya dan siapa ayahnya, bayangkan seorang wanita yang menikahi 4 lelaki, ibunya masih bisa kita ketahui, tetapi ayahnya siapa? Agama sudah memberikan petunjuk yang jelas kepada hambanya. Yakinlah bahwa Allah itu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

            Salah satu tantangan terbesar bagi pemikiran Islam juga adalah Hak Asasi Manusia (HAM). Banyak didalam ketetapan-ketetapan HAM ini yang bertolak belakang dengan ajaran agama terutama agama Islam. Seperti yang terjadi baru-baru ini sebelum Natal, Komnas HAM mengeluarkan pernyataan sikap yang diantara isinya, 1. Menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk memeluk dan menjalankan agama dan keyakinannya, termasuk hak dan kebebasan menggunakan simbol atau atribut keagamaan di depan umum, 2. Komnas HAM mengimbau MUI agar dalam mengeluarkan fatwa dan pandangan keagamaan tetap dalam semangat saling menghormati antar umat beragama, serta memperkuat kebhinekaan, 3. Komnas HAM juga mengimbau warga masyarakat untuk tidak menjadikan fatwa pandangan keagamaan sebagai dasar untuk melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum. Konflik ini langsung direaksi oleh Pimpinan Besar FPI, Habib Rizieq seperti yang terlangsir dalam suara-islam.com. Fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah untuk menjaga aqidah umat Islam dan itu sesuai dengan HAM. Terlihat disini bahwa Komnas HAM tidak faham dengan HAM itu sendiri yang akhirnya menyebabkan senjata makan tuan karena 1. memfitnah Fatwa MUI sebagai anti kebhinekaan, 2. memprovokasi Kapolri untuk menindak Ormas Islam yang mensosialisasi Fatwa MUI, 3. menyatakan bahwa Fatwa MUI bukan peraturan negara yang mengikat (penghinaan terhadap hukum agama yang merupakan salah satu sendi hukum negara yang diakui disamping hukum sipil dan hukum adat), 4. memprovokasi masyarakat agar tidak menjalankan fatwa MUI (merupakan penistaan agama dan penghinaan terhadap Ulama beserta umat Islam).

            Maka terlihat dengan jelas badan pemerintahan, lembaga-lembaga, ormas-ormas dan lain sebagainya berusaha untuk memisahkan urusan agama dengan urusan dunia yang tidak diajarkan didalam Islam. Islam merupakan agama yang lengkap yang mana urusan masuk tandas sekalipun dibahas didalamnya. Jadi, jika kita ingin humanis, maka kita harus religius karena agama mengajarkan kemanusiaan yang memanusiakan manusia.

Wallahu a’lam bissowab.
           


Friday, 30 December 2016

Perbedaan antara toleransi dan kompromi




Hidup dalam keberagaman kaum, budaya, ras, bahkan agama menimbulkan banyak perbedaan yang tidak terlepas dari menimbulkan perbalahan dan perpecahan. Malaysia – Indonesia adalah contoh Negara yang mempunyai keberagaman didalamnya. Walaupun keberagaman itu terhitung cukup besar dan sangat berpotensi untuk terjadinya konflik diantara perbedaan-perbedaan itu, namun kedua Negara ini masih mempunyai hati nurani untuk menjaga kehidupan yang damai di dalam lingkungan perbedaan-perbedaan ini.

Kesalahpahaman terhadap toleransi terutama dalam toleransi beragama bisa menimbulkan konfik yang berakibatkan fatal. Kejadian-kejadian yang banyak diceritakan sejarah tentang terjadinya perang antara agama salah satu puncanya adalah disebabkan intoleran. Menurut Wikipedia, toleransi adalah membiarkan orang lain berpendapat lain, melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. Istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.

Logika mudahnya seperti ini, ketika kita mengendarai sebuah kenderaan, kita wajib untuk mengikuti aturan rambu-rambu lalu lintas yang telah ditetapkan. Traffic light contohnya, merah menandakan berhenti, kuning berjaga-jaga, hijau jalan. Diharapkan semua pengendara kenderaan memahami rambu-rambu ini. Apabila ternyata ada pengemudi yang intoleran dan melanggarnya, maka akan terjadilah clash atau konflik di jalan tersebut. Yang bermaksud, toleransi itu sudah ada ketetapannya dan batas-batasannya.

Contoh toleransi dalam beragama, umat Muslim diharamkan untuk mengucapkan “Selamat Natal” apalagi untuk mengikuti perayaan Natal. Tetapi ada beberapa pihak yang menentang akan fatwa ini dengan mengatakan bahwa hal ini sangat tidak toleransi. Kenapa umat Kristiani bisa mengucapkan “Selamat Hari Raya”, tetapi umat Muslim malah sebaliknya? Ini adalah hal yang berkaitan dengan aqidah umat Muslim. Dalam ajaran Islam, Isa bukanlah tuhan melainkan utusan Allah dan Nabi Isa tidak lahir pada musim dingin. Dengan bukti dalam Bibel (Injil) Lukas (2): 1-8 berbunyi,

“Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh untuk mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri masing-masing di kotanya. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud, supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ, tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang sedang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”.
Dan dalam Bibel (Injil) Matius (2): 1 dan 10-11 berbunyi,
“Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus datangalah orang-orang Majus dari Timur ke Yerussalem. Ketika mereka melihat bintang itu sangat bersuka citalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama maria, ibunya.”
Jika kita perhatikanlah analisa berikut ini, “Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput yang beratapkan langit dengan bintang-bintangnnya yang gemerlap, menunjukkan kondisi waktu itu adalah musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan sinar matahari. Sedangkan pada tanggal 25 Desember, tidak ada satu orang pun yang mengingkari bahwa pada bulan Desember suhu udara di kawasan Palestina sangat rendah, sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil turun pada bulan ini”. Ketika ada umat Islam yang tetap berisi keras dalam memperbolehkan pengucapan Natal apalagi mengikuti perayaannya, sungguh keimanan dan keIslamannya akan gugur.

Sebenarnya, jika Natal dibandingkan dengan Hari Raya itu sangat tidak seimbang karena Hari Raya adalah hari kemenagan umat Islam setelah sebulan berpuasa. Menurut saya peribadi, boleh bagi non-Muslim untuk mengucapkan selamat. Jadi yang lebih cocok untuk membuat perbandingan adalah Natal dengan Maulid Nabi. Apakah ada umat Kristiani yang mau mengucapkan “Selamat atas Kelahiran Nabi Muhammad SAW”? apalagi untuk mengikuti perayaannya? Saya yakin tidak karena itu sangat bercanggah dengan aqidah keimanan umat Kristiani karena mereka tidak mempercayai akan Nabi Muhammad sebagai utusan terakhir Allah dan segala apa yang dibawanya itu adalah benar. Maka disini, sikap toleransi antara umat beragama harus diperkuat dengan pemahaman-pemahaman yang benar agar tidak terjadi konflik-konflik yang diingini. Mudahnya, seperti yang telah disebutkan didalam Al-Qur’an, “Lakum diinukum waliya diin”, untukmu agamamu untukku agamaku.

Ada pahaman yang timbul yang mana menurut saya itu bukanlah toleransi melainkan kompromi. Melalui sumber Wikipedia, maksud kompromi adalah upaya untuk memperoleh kesepakatan diantara dua pihak yang saling berbeda pendapat atau pihak yang berselisih paham. Kompromi juga dapat dikatakan sebagai konsep untuk mendapat kesepakatan melalui komunikasi. Kompromi dilakukan agar perbedaan pendapat dapat terselesaikan dengan pembuatan kesepakatan baru. Kesepakatan baru dalam kompromi adalah kesepakatan yang dianggap saling menguntungkan kedua belah pihak atau tidak ada satu pihak yang dirugikan dengan kesepakatan yang dihasilkan. Mereka yang berupaya dalam membuat kesepakatan dalam kompromi menurunkan idealisme masing-masing sehingga tercapai kompromi. Kompromi juga dapat dikatakan sebagai jalan tengah untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Toleransi beragama bersifat ekslusif, dengan bahasa kasarnya ego. Melihat manusia hidup tidak bersendirian dan pasti menghadapi perbedaan-perbedaan, maka setelah toleransi ada kompromi. Diantara kedua pihak harus saling paham antara toleransi-toleransi perbedaan-perbedaan melalui jalur kompromi. Dengan adanya kompromi, dapat menghindarkan konflik-konflik dalam toleransi. Menurut saya, toleransi saja belum mampu untuk menghindari konflik sepenuhnya. Dengan adanya kompromi, dengan izin Allah konflik-konflik yang mengancam keharmonian dan kedamaian dunia dapat terhindarkan.

Setelah memahami makna sebenar dari toleransi dan kompromi, saya berkesimpulan bahwa setiap manusia harus bersikap toleransi. Tetapi sikap toleransi diantara manusia-manusia ini juga masih ada perbedaan-perbedaan. Saya beranggapan bahwa kompromi adalah solusi untuk menyelesaikan masalah perbedaan secara umum dan perbedaan didalam didalam toleransi. Wallahu A’lam Bissowab.

Sunday, 23 October 2016

Bencana menurut pandangan Islam


Pendahuluan

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.[1]

Bencana-bencana ini dapat dikategorikan kepada 3 bagian, bencana alam, bencana non-alam dan bencana sosial. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Manakala bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.[2]

Setiap bencana yang terjadi adalah kehendak Allah SWT. Sesungguhnya Allah menurunkan bencana kepada manusia atas sebab-sebab tertentu. Ada bencana yang diturunkan kepada orang yang beriman maupun kepada orang yang kufur. Tetapi orang-orang yang beriman akan diberikan petunjuk, seperti yang disebutkan dalam Surat At Taghabun ayat 11

(Ayat Qur’an)
" Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. "

Ada beberapa sebab bencana diturunkan oleh Allah SWT menurut pandangan Islam.
1.     Bencana merupakan adzab dari Allah bagi para penentang Rasul-Rasul terdahulu, atau sebagai cobaan bagi orang beriman untuk menghapus dosa-dosanya
2.     Bencana sebagai cobaan bagi mukmin
3.     Musibah sebagai peringatan agar kembali kepada kebenaran
4.     Bencana alam disebabkan oleh "perbuatan tangan mereka sendiri"


Pembahasan

Bencana merupakan adzab dari Allah bagi para penentang Rasul-Rasul terdahulu, atau sebagai cobaan bagi orang beriman untuk menghapus dosa-dosanya

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُون َ(العنكبوت :40)
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Al-‘Ankabut/29:40)

Pada ayat diatas kita dapat mengetahui bagaiman Allah membinasakan umat–umat yang terdahulu yang membangkang maupun mendustakan para rasulnya .Ditambah lagi ayat–ayat Al-Quran yang bercerita tentang kisah masa lalu tentang bagaimana Allah menghukum kaum-kaum yang berdusta. Ayat diatas merupakan paparan berbagai macam azab yang pernah Allah diturunkan kepada kaum yang mendzolimi diri mereka sendiri dan diantaranya adalah:
1.     Angin yang sangat kencang dan membawa batu yang didatangkan kepada kaum ‘Ad. Mereka yakni yang menentang nabi  Hud, dijelaskan dalam ayat lain yang menjelaskan siksaan tersebut yang berbunyi :
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَة  سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍٍ فَهَلْ تَرَىٰ لَهُم مِّن بَاقِيَةٍ .(الحاقة 6-8)
Sedangkan kaum ‘Ad mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus menerus; maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka adakah kamu melihat seseorang pun yang masih tersisa diantara mereka?. (Al-Haqqah/69:6–8).
2.     Suara mengguntur yang memecahkan anak telinga . Siksaan ini diturunkan kepada kaum samud dimana mereka membangkang dan tidak mau beriman kepada Nabi Shaleh tiba-tiba mereka dipingsankan lalu mati oleh kejutan suara yang mengguntur yang dahsyat sekali.
فاما الثمود فاهلكوا بالطاغية .(الحاقة :5).
Maka adapun kaum samud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang sangat keras.
(Al-Haqqah :5)
3.     Adapun azab Allah tentang ditelannya seseorang ke dalam bumi yaitu dalam kisah karun, seorang hartawan. Yang pada mulanya seorang yang berimna dan patuh pada Musa. Kemudian setelah kaya, ia menjadi sombong dan durhaka. Ia berbuat melampaui batas tidak mau membayar zakat karena kecongkaan inilah Allah menyiksannya.
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ الَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
4.     Ditenggelamkan di dalam air inilah siksaan bagi kaum Nabi Nuh beserta hartanya. Selain umat Nabi Nuh, firaun beserta bala tentara juga tenggelam dilaut merah balasan atas kesombongan dan siksaan yang meraka lakukan terhadap Musa dan pengikutnya.
وَنُوحًا إِذْ نَادَىٰ مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ
Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdo`a, dan Kami memperkenankan do`anya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar.

وَنَصَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚإِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ
Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya.
Semua permisalan dari ayat diatas adalah balasan yang setimpal  atas kesalahan yang mereka perbuat, bukan kezaliman dari Allah. Dia tidak menyiksa seseorang melainkan yang mengerjakan perbuatan yang tercela. [3]

            Beberapa kejadian bencana besar telah berlaku pada zaman-zaman nabi-nabi dan rasul-rasul kita yang mana sampai disebutkan didalam Al-Quran Al-Karim. Kejadian-kejadian ini disebutkan untuk menjadi pelajaran buat umat manusia dan peringatan buat manusia yang ingkar. Bencana yang diturunkan Allah itu merupakan azab awal yang ditunjukkan oleh Allah di muka bumi ini. Tiidak dapat kita bayangkan bagaimana azab Allah di akhirat kelak sedangkan yang begini saja sudah terlalu luar biasa buat manusia. Adanya bencana ini salah satunya adalah untuk menguji keimanan orang-orang mu’min serta menghapuskan dosa-dosa mereka. Ketika mereka diuji dan mampu menghadapi ujian itu dengan baik maka dosa-dosanya akan terampuni.


Bencana sebagai cobaan bagi mukmin

(Ayat Qur’an)
Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar (155) (Iaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh sesuatu kesusahan, mereka berkata: "Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali." (156)

Dalam kitab tafsir menerangkan bahwa Allah akan menguji kaum Muslimin dengan berbagai ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (bahan makanan). Dengan ujian ini, kaum Muslimin menjadi umat yang kuat mentalnya, kukuh keyakinannya, tabah jiwanya dan tahan menghadapi ujian dan cobaan. Mereka akan mendapat predikat sabar dan merekalah orang-orang yang mendapat kabar gembira dari Allah.

Ayat selanjutnya, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar memberitahukan ciri-ciri orang-orang yang mendapat kabar gembira yaitu orang yang sabar apabila mereka ditimpa sesuatu musibah mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).[4]

            Dengan ini, bencana bukanlah kenyataannya 100% musibah atau malapetaka yang bersifat negative semata. Tetapi bencana disini adalah sebagai ujian untuk orang-orang mu’min. Untuk meningkatkan lagi ketaqwaannya kepada Allah SWT. Yang mana nantinya setelah ada kesusahan pasti ada kesenangan dengan datangnya kabar gembira. Dijelaskan ciri-ciri orang yang mendapat kabar gembira adalah orang-orang yang sabar apabila ditimpa musibah.


Musibah sebagai peringatan agar kembali kepada kebenaran

(Ayat Qur’an)
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (167) Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (168)

Ayat di atas ditafsirkan bahwa Nabi Muhammad dalam ayat ini diingatkan oleh Allah tentang pemberitahuan-Nya kepada orang-orang Yahudi, bahwa Dia akan mengirimkan manusia lain yang lebih perkasa dari mereka untuk menjajah dan menyiksa mereka. Mereka selalu akan hidup dalam kehinaan dan penderitaan sampai akhir zaman, disebabkan tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Dalam sejarah telah terbukti dengan jelas ancaman Allah tersebut. Sesudah zaman Nabi Sulaiman, bangsa Yahudi diperangi oleh bangsa Babilonia di bawah raja Nebukadnezar, mereka hancur, laki-laki banyak yang dibunuh dan wanita-wanitanya banyak yang dijadikan hamba sahaya. Banyak pula diantara mereka yang dibawa ke Babilonia sebagai tawanan, sesudah itu mereka dijajah berganti-ganti oleh bermacam-macam kerajaan, karena itu mereka mengalami penderitaan berabad-abad lamanya akibat peperangan yang itdak henti-hentinya. Akhirnya mereka jatuh ke tangan bangsa Romawi sampai Nabi Isa. Zaman Romawi Kristen mereka tidak mempunyai kekuasaan lagi, bahkan mereka diusir dari negeri mereka dan terpencar-pencar di beberapa negeri Sebagian mereka melarikan diri ke Jazirah Arab. Tinggallah mereka di daerah ini memusuhi Nabi Muhammad. Padahal beliau telah memberikan kebebasan kepada mereka hidup di daerah Islam berdasarkan perjanjian dengan mereka. Karena sikap permusuhan dan pengkhianatan mereka, terpaksa kaum Muslimin mengusir mereka dari daerah Islam. Ada pula di antara mereka yang dibunuh atau terbunuh karena berpihak kepada kaum musyrikin waktu peperangan (perang Ahzab).
           
Pada abad ke-20, mereka mengalami penderitaan yang tak terperikan. Dalam perang dunia kedua yang lalu, banyak orang Yahudi menjadi korban kekuasaan Nazi Jerman. Di Amerika, di eropa dan di Rusia, dewasa ini mereka masih banyak mengalami penghinaan. Meskipun orang Yahudi sekarang sudah mempunyai tanah air (Israel) namun mereka tetap dalam penderitaan, karena sikap mereka juga, diseabkan umat manusia di dunia ini, terutama umat Islam memusuhi mereka. Negara Israel itu dibentuk dengan mengusir rakyat Palestina yang menjadi penduduk asli Negara tersebut. Demikianlah nasib bangsa Yahudi itu. Sesungguhnya hukum Allah berlaku terhadap umat yang mendurhakai perintah-perintah-Nya dan membuat onar. Tetapi pengampunan dan kasih saying Allah sangatlah besar dan luas bagi mereka yang taubat dari dosanya, kembali ke jalan Allah dengan penuh kesadaran dan dengan jalan mengadakan perbaikan. Allah pasti menghapus penderitaan mereka.

Selanjutnya ayat ke-168, dalam ayat ini Allah menguraikan siksaan dan penderitaan mereka yakni mereka dicerai-beraikan di atas bumi ini satu golongan berada di suatu daerah sedang golongan yang lain berda di daerah lain. Sebagian mereka ada yang menjadi orang-orang yang selalu mengadakan perbaikan dan beriman kepada Nabi-Nabi, tetapi ada pula yang benar-benar tenggelam dalam kekafiran dan kefasikan hingga membunuh Nabi-Nabi, memutar balikkan isi Kitab Taurat dan memusuhi Nabi Muhammad. Untuk membuat mereka sadar, mereka diuji dengan kesenangan dan penderitaan silih berganti, tetapi tidak membuat mereka jera. Mereka yang baik diberi anugerah kebaikan dan kebahagiaan. Mereka yang durhaka diturunkan bencana kesengsaraan. Semuanya itu cobaan bagi mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.[5]
           
            Musibah yang terjadi pasti ada sebabnya. Allah tidak pernah mengadakan sesuatu itu jika itu sia-sia. Beberapa musibah yang diturunkan oleh Allah SWT bertujuan untuk memberi peringatan kepada manusia-manusia yang lalai, ingkar, tidak tahu bahkan terlupa. Inilah tanda kasih-sayang Allah kepada hambanya walaupun hambanya sering melakukan salah dan dosa. Allah mengirimkan bencana agar mereka teringat dan kembali kepada jalan yang lurus. Bencana juga menjadi peringatan atau teguran atas apa yang kita lakukan bahwa apa yang kita lakukan itu salah dan dosa.


Bencana alam disebabkan oleh "perbuatan tangan mereka sendiri"

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِير ٍ(الشوري :30)
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa apa yang menimpa manusia di dunia berupa bencana maupun penyakit dan lain lain tidak lain adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri, hal ini diperjelas dengan sabda Nabi SAW:

مَا يُصِيْبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَاوَصَبٍ وَ لاَهَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذَي وَلاَ غَمٍّ حَتَي الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا اِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ (رواه البخاري)
Tidaklah suatu keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, kedzaliman, kesempitan, bahkan sepotong duripun yang menusuk seorang muslim, melainkan dengan hal itu Allah menghapus dosa-dosanya (Riwayat al-Bukhari)

Datangnya penyakit atau musibah tidak hanya disebabkan oleh manusia itu sendiri atas perbuatan yang mereka lakukan, tetapi disisi lain penyakit atau musibah itu dapat menghapus dosa seperti yang dikatakan nabi pada hadist diatas tergantung manusia itu sendiri menyingkapinya apakah dengan bersabar atau berputus asa. Hadist diatas menegaskan bahwasannya bencana maupun musibah yang didatangkan Allah yang biasanya manusia artikan sebagai peringatan dariNya dapat menghapus dosa–dosa yang manusia lakukan. Ayat ini pun berlaku bagi semua golongan umat manusia tidak terkecuali hewan melata sekalipun hal ini diperjelas dengan ayat lain dalam Al-Quran yang artinya “Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa dimuka bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang ditentukan.(Fatir/35:45).[6]

            Kejadian bencana ataupun musibah yang berlaku di dunia ini, berpunca dari manusia itu sendiri. Allah tidak pernah zalim terhadap hambanya. Pasti Allah mempunyai alasan kenapa Dia menurunkan bencana. Bisa dikatakan bahwa kejadian bencana itu pasti ada ulah manusia didalamnya dan Allah mengizinkan akan hal itu untuk terjadi. Bencana juga merupakan hukuman buat manusia yang berdosa. Allah menghukum manusia di dunia agar manusia nanti tidak di hukum lagi di akhirat. Penghapusan dosa oleh Allah di dunia untuk hamba-hambanya menandakan bahwa Allah tidak ingin hambanya ramai yang masuk neraka dan menerima azab yang pedih.


Penutup

            Kehidupan didunia ini pasti tidak terlepas dari kerusakan-kerusakan yang disebabkan manusia itu sendiri. Karena dunia ini adalah sementara dan hanyalah tempat untuk menguji manusia, manusia manakah yang yang lebih baik ketaqwaannya kepada Allah SWT. Allah mengadakan bencana itu untuk memperingati dan menghapuskan dosa manusia. Sesungguhnya sangat banyak manusia yang lalai pada zaman ini,
           



[1] http://www.bnpb.go.id/pengetahuan-bencana/definisi-dan-jenis-bencana
[2] http://www.bnpb.go.id/pengetahuan-bencana/definisi-dan-jenis-bencana
[3] Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya, Jilid 7, Hal 401- 403.
[4] Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya Jilid 1, hal 232-233
[5] Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya Jilid III, hal 516-517
[6] Kementrian Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya, Jilid 9, hal 59 – 61 .

Thursday, 5 May 2016

Da'i Selebriti

 Pembahasan

    Menjadi tanggungjawab bagi seluruh umat manusia muslim untuk menyampaikan kebaikan, kebenaran dan nasehat yang menjadi salah satu syarat untuk memasuki Surga Allah SWT yang juga merupakan tugas bagi seorang da'i seperti yang dinyatakan dalam Al-Quran Surah Al-Asr (103: 1-3)

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan nasehat menasehati, supaya mentaati kebenaran, dan nasehat menasehati, supaya menetapi kesabaran (3)

    Memahami makna sebenar dari da'i adalah orang yang mengajak, menyeru kejalan kebaikan yang berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah. Da’i yang mengajak kepada Allah adalah mereka sebagai pewaris para Nabi, yang mengajak dari jalan kesesatan menuju jalan yang benar {petunjuk} dan mereka sabar dari orang-orang yang menyakiti baik dengan ucapan atau perbuatan dan mereka yang senantiasa menghidupkan dengan kitab Allah dan menghidupkan Sunnah-sunnah Rasulullah.

    Seorang da'i haruslah benar-benar menjadi da'i yang memenuhi kriteria sebenar sebagai da'i seperti yang dimaksudkan diatas. Akhir-akhir ini muncul fenomena baru yang dikenali sebagai da'i selebritis. Da'i selebritis adalah seorang pendakwah ataupun da'i yang menyampaikan dakwahnya lebih banyak melalui media massa seperti televisi, radio dan acara lainnya. Yang mana da'i ini setara dengan artis-artis lainnya. Bedanya, artis terkenal melalui nyanyiannya atau lakonannya, manakala da'i selebritis ini terkenal dengan penyampaian dakwahnya. Da'i selebritis ini, kehidupan sehari-harinya selalu disorot dengan media. Seluruh masyarakat dapat mengetahui cara kehidupan seorang da'i itu, dari pakaiannya, makannya, bekeluarganya, dan sebagainya.

    Secara bahasa, arti kata "celebrity" adalah famous person, orang tenar. Celebrity memiliki akar kata yang sama dengan celebrate. Arti kata celebrate sendiri adalah merayakan, memberitahukan ke khalayak, atau memperingati dengan ritus atau upacara. Celebrate biasanya melibatkan dan diketahui banyak orang, bahkan (terkadang) mendapat liputan atau pemberitaan meluas sehingga semakin banyak orang yang tahu. Celebrate dan celebrity kata kuncinya adalah dikenal luas. Ciri-ciri orang tenar adalah selalu menarik perhatian publik, entah ucapannya, tindakannya, maupun kehidupan pribadinya.


Permasalahan

    Menjadi permasalahan sekarang ini adalah pro dan kontra terhadap da'i selebritis ini. Ada yang mengatakan bahwa da'i selebritis ini adalah salah satu cara berdakwah yang baik untuk menarik minat mad'u. Dan ada yang mengatakan bahwa da'i selebritis ini membawa banyak efek negatif kepada dakwah dan juga ajaran Islam itu sendiri. Sebelumnya kita harus melihat dari dua aspek positif dan negatifnya.

Positif
Mudah dalam menyampaikan dakwah. Dengan ini, dakwah yang ingin disampaikan akan lebih mudah dan jangkauannya lebih luas berbanding dengan dakwah cara biasa. Dakwahnya lebih mudah untuk diterima oleh mad'u.
Penyebaran dakwah Islam mampu bersaing dengan perkembangan zaman. Di zaman yang serba modern ini, Islam harus mampu bersaing dalam kepesatan pembangunan zaman agar tidak tertindas atau ketinggalan. Dengan adanya da'i-da'i selebritis ini dapat menghadirkan acara-acara televisi Islami dan menunjukkan cara hidup seorang muslim agar menjadi panutan untuk lainnya.
Menjadi profesi dan penghasilan rezeki. Menjadi da'i selebritis sungguh sangat menghasilkan rezeki yang melimpah ruah. Mengislamkan sebuah profesi dari artis yang notabennya negatif kearah yang positif dan Islami.

Negatif
Gaya hidup yang berubah. Dampak besar yang berlaku keatas da'i yang menjadi selebritis terlihat dari gaya hidupnya. Mungkin yang dulunya biasa-biasa saja atau sederhana, setelah menjadi selebritis semuanya serba menjadi mewah karena selalu disorot dengan kamera-kamera yang akan menceritakan kehidupan seseorang da'i itu.
Keluar dari nilai-nilai Islam. Kebanyakan para da'i selebritis ini keluar dari nilai-nilai keislaman yang mana niat asalnya adalah untuk menyebarkan dakwah tetapi malah mengejar kenikmatan dunia. Terlihat ketika sifat-sifat manusianya keluar seperti riak, takabur, sombong, dan lain sebagainya.
Memasang tarif. Sebagian da'i selebritis ada yang memasang tarif bagi setiap segmen yang dibawakan. Akhirnya, ikatan antara da'i dengan mad'u seperti ikatan bisnesman dengan pelanggannya. Dengan ini sudah terlihat bahwa keikhlasan seorang da'i itu sudah hilang.
Tidak mempunyai ilmu pengetahuan agama yang mencukupi. Kebanyakan dari da'i selebritis adalah bukan dari golongan-golongan ilmuwan agama yang mana ilmu pengetahuan agamanya sangat luas. Oleh dikarenakan cara berbicara dan penyampaian seorang da'i selebritis itu bagus dan baik, maka penyampaiannya dapat diterima. Yang menjadi permasalahan besar ketika ada diantara mereka yang menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan agama disebabkan oleh ketidaktahuan mereka.
Sekadar hiburan. Banyak di media-media sekarang, da'i selebritis ini menyampaikan dakwahnya tapi tidak mempunyai isi, hanya sekadar lelucon atau guyonan. Konsep dakwah disini terhapus serta merta karena ianya hanya sekedar hiburan untuk mencari rating penonton.

Kesimpulan

    Dalam makalah ini, penulis memihak kepada kontra tentang da'i selebritis karena banyak negatifnya daripada positifnya. Atas dasar-dasar dan sebab-sebab sebagai berikut:

Tidak memenuhi kriteria sebagai seorang da'i
Ikhlas didalam berdakwah
Mendefinisikan tujuan
Mengoleksi sifat Mujahid
Mencari ilmu yang bermanfaat
Tidak memiliki pola hidup serba sempurna
Dll.

Hilang keikhlasan dalam berdakwah. Berdakwah tidak lagi dianggap sebagai tugas yang mulia untuk mencapai ridho Allah SWT melainkan hanya sebagai profesi untuk memenuhi kebutuhan duniawi dan akhirat terlepas.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلَ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni (ikhlas) untukNya dan untuk mencari wajahNya.

وَجَآءَ مِنْ أَقْصَا الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْئَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ
Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bersegera, ia berkata: “Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tidak meminta upah (balasan) kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Dari dalil Hadits dan Al-Quran diatas kita dapat melihat bahwa Allah SWT tidak menerima suatu amalan yang tidak ikhlas dan diseru untuk mengikuti orang-orang yang tidak meminta balasan karena merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Selain ikhlas, di dalam berdakwah wajib mengikuti Sunnah Nabi SAW. Sehingga seseorang berdakwah berdasarkan ilmu, hikmah dan kesabaran. Tidak berdakwah dengan bid’ah dan kemaksiatan. Karena memang Rasulullah SAW merupakan panutan terbaik bagi umat Islam dalam segala perkara, termasuk di dalam berdakwah menuju agama Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kamu (umat Islam, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (pahala) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.









Referensi

Al-Quran Al-Karim
As-Sunnah An-Nabawiyah
http://www.kompasiana.com/tomysaleh/siapa-itu-selebritis_550ffac2a33311c137ba7e04
http://ryannugrahaabuhasan.blogspot.co.id/2011/12/kriteria-dai.html

Sunday, 6 March 2016

Hari Jadi atau Ulang Tahun datang, bergembirakah atau bersedihkah?

 
    Umur atau usia adalah jangka waktu untuk menghitung atau mengira lama keberadaan sesuatu, di mulai dari pertama kali hadirnya sesuatu sehingga perginya atau matinya sesuatu. Seperti contoh, umur manusia diukur dari kelahiran seseorang sampai pada suatu waktu yang tertentu. Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui panjang dan lamanya umur seseorang manusia kerana ia adalah rahsia Allah SWT, hanya Allah yang Maha Mengetahui. Umur seseorang telah di tentukan oleh Allah SWT dari sebelum kelahiran seseorang itu lagi yang juga disebut sebagai takdir.

    Ulang tahun mempunyai makna yang global. Tidak hanya untuk memperingati kelahiran seseorang, tetapi juga perkahwinan, pembangunan kerjaya, pendirian bangunan termasuklah pacaran (couple) untuk anak-anak muda illegal sekarang dan banyak lagi. Biasanya umat manusia akan meraikan dan menyambut kedatangan ulang tahun ini dengan  pelbagai cara dan juga dengan pemberian hadiah.

    Ketika datangnya saja hari ulang tahun seseorang, sudah pasti banyak ucapan dan wish-wish (doa-doa) yang diterima daripada kerabat keluarga, sahabat handai, workmates dan banyak lagi. Sambutan yang diadakan juga pasti meriah. Objek yang selalu digunakan dalam sambutan ulang tahun adalah kek dengan adanya lilin yang dinyalakan kemudian ditiup setelah dinyanyikan lagu "Happy Birthday". Dengan hadirnya media sosial seperti sekarang ini, sudah pasti ramai postingan di wall-wall media sosial. Foto-foto sambutan ulang tahun dengan kegembiraan sudah pasti di share. Malah ada yang menyambut ulang tahun tidak hanya sekali, berkali-kali. Untuk menunjukkan betapa berharaganya dia dengan kelahirannya di dunia ini.

    Seseorang jadi sangat sensitif apabila orang yang disanyanginya lupa akan hari ulang tahunnya. Ini biasanya terjadi kepada pasangan-pasangan couple/pacaran (illegal) boleh musnah gara-gara lupa akan hari ulang tahun kekasihnya. Disini penulis menyimpulkan bahwa ulang tahun adalah sesuatu yang sakral dan sangat penting bagi seseorang.

    Di sini penulis tidak menyalahkan bagaimana seseorang itu hendak meraikan ulang tahunnya. Mau diraikan setiap hari juga tidak ada masalah. Tetapi penulis disini menanyakan, siapakah yang seharusnya diraikan, orang yang dilahirkan atau orang yang melahirkan (ibu)?. Di sini menjadi tanda tanya besar bagi penulis secara peribadi. Ibu adalah orang yang telah berjuang mati-matian untuk melahirkan kita. Kalau kita mempunyai akal sihat, yang harus diraikan itu adalah orang yang melahirkan (ibu) bukan orang yang dilahirkan. Umumnya bahkan boleh dikatakan tiada satupun manusia ketika hari ulang tahunnya datang, mengucapkan terima kasih atau penghargaan kepada ibunya yang telah melahirkannya.

    Kemudian, ketika ulang tahun datang, perlukah kita bergembira atau bersedih? Secara umumnya, manusia akan bergembira. Tapi sebenarnya apakah yang mereka gembirakan dan raikan. Ulang tahun datang adalah sebagai tanda bahwa bilangan umur bertambah dan umur kita semakin berkurang. Itu bermaksud kita sudah semakin dekat dengan kematian. Jadi apakah orang-orang yang bergembira ini bergembira dengan semakin dekatnya dia dengan kematiaanya? Mungkin juga dia bergembira dengan semakin dekatnya dia untuk meninggalkan dunia ini yang penuh dengan kefanaan, penipuan dan kejahatan.

    Inti sebenar dari ulang tahun adalah rasa syukur kita kepada Allah SWT yang masih memberikan kita kesempatan untuk bertaubat, nikmat yang telah diberikan selama ini, kebahagian dalam merasakan kehidupan di dunia ini. Jika berbicara tentang hukum, ulama ada yang membolehkan dan ada juga yang tidak. Kembali kepada bagaimana kita meraikannya. Jika diraikan dengan maksiat, maka sudah pasti haram hukumnya. Jika dengan tasyakuran, boleh-boleh saja. Allahu A'lam Bissowab.

Tuesday, 2 February 2016

The Untold Stories of Makkah (Part I)

 
Makkah adalah negeri yang mulia dan tanah haram yang agung ini mempunyai banyak nama, seperti Massasah, Al-Hatimah, Al-Haram, Shalah, Al-Basah, Ma’az, Ar-Ra’as, Kuusa dan banyak lagi. Allah SWT sendiri memberi nama kota ini dengan 5 nama, yaitu Makkah, Bakkah, Al-Balad (kota), Al-Qaryah (negeri), Ummul Qura (ibu negeri).

Makkah dan Madinah disebut “Haramain” (dua tanah haram). Disebut haram kerana di tanah itu diharamkan melakukan perbuatan-perbuatan yang jika dilakukan di tanah lain hukumnya boleh-boleh saja. Contohnya berburu, seseorang yang berada di tanah haram tidak boleh berburu atau membunuh binatang yang mana di tempat selain tanah haram diperbolehkan dan tidak bermasalah. Selain itu, ia juga memiliki arti bahawa orang-orang kafir atau non-muslim tidak boleh memasuki wilayah ini.

Haramain adalah tempat yang mana Dajjal tidak dapat memasukinya. Sebagaimana yang kita ketahui bahawa menjelang hari kiamat, Dajjal akan datang untuk menyebarkan fitnah, membuat kerosakan dan mengkafirkan manusia. Hal ini disebutkan dalam kitab Shahih Al-Bukhari bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada satu negeri pun kecuali dia akan diinjak tanahnya oleh Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Sebab, tidak ada satu celah pun di antaranya kecuali di sana ada malaikat yang berbaris menjaganya”. (H.R Al-Bukhari)

            Empat Astonaut Rusia (Andrey Borisenko, Alexander Samokutyaev, Anatoly Ivanishin dan Anton Shkaplerov) menceritakan pengalaman selama berada di luar angkasa dengan penemuan yang menghebohkan dunia apabila terakam Makkah dan Madinah sebagai dua kota yang paling bersinar di dunia. Manakala astronaut dari Amerika keturunan India, Sunita Williams bukan saja menggambar terangnya Makkah dan Madinah tetapi juga menangkap suara azan ketika gelombang suara dari bumi tidak mampu merambah luar angkasa.

            Allah SWT telah menetapkan Makkah sebagai tanah haram semenjak Allah menciptakan langit dan bumi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA berkata, “Tatkala Allah SWT memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya SAW dengan menaklukkan kota Makkah, lalu Rasulullah SAW berdiri dihadapan orang-orang kemudian beliau mengucapkan Alhamdulillah dan memuji asma Allah, lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT telah menghalangi tentera bergajah masuk ke Makkah dan Allah SWT telah menaklukkan Makkah untuk Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman dan sesungguhnya tidak dihalalkan bagi orang sebelumku untuk menyerbu Makkah, hanya dihalalkan satu saat saja khusus untukku pada hari ini dan sesungguhnya tidak dihalalkan lagi untuk siapa pun setelahku. Maka dilarang mengusir haiwan buruannya, dilarang memotong tumbuh-tumbuhannya dan barang yang tercicir tidak halal dipungut kecuali bagi orang yang berniat mencari pemiliknya. Dan siapa yang keluarganya mati dibunuh, maka mereka mempunyai dua pilihan; menerima diyat (denda 100 ekor unta) atau qishash”. (Muttafaq alaih)

            Keharaman Makkah mempunyai batas-batas yang diletakkan pertama kali oleh Nabi Ibrahim AS yang ditunjukkan oleh Malaikat Jibril. Batas-batasnya adalah:
1.     Arah Barat, jalan Jeddah-Makkah, di Asy-Syumaisi (Hudaibiyah), yang berjarak; 22 km dari Ka’bah.

2.     Arah Selatan, di Idha’ahiben, jalan Yaman-Makkah untuk yang datang dari Tihamah, yang berjarak; 12 km dari Ka’bah.
3.     Arah Timur Laut, jalan Ji’ranah dekat dari kampong Syara’I Al-Mujahidin, berjarak; 16 km dari Ka’bah.
4.     Arah Utara, batasnya adalah Tan’im, yang berjarak; 7 km dari Ka’bah.

Bila seseorang yang merasa ketakutan memasuki kota ini, maka ia akan merasa aman dari segala keburukan. Para ulama bersepakat (ijma) akan hal, barang siapa yang berbuat keburukan/jenayah di tanah haram, maka ia tidak akan mendapatkan rasa aman kerana ia telah merosakkan kehormatan tanah haram. Adapun apabila seseorang melakukan keburukan/jenayah di luar kawasan ini kemudian ia mencari suaka ke tanah haram, maka haruslah bagi setiap muslimin memboikot orang tersebut sehingga orang itu keluar dari tanah haram, lalu dilaksanakan hukum terhadap orang tersebut. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: “Siapa yang melakukan suatu tindakan kejahatan, kemudian datang ke Baitullah agar mendapat perlindungan, maka dia aman dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin memberi hukuman padanya, hingga dia keluar dari tanah haram dan apabila dia telah keluar, maka dibolehkan menghukumnya”.


Sumber:
Teguh Sutanto, The Untold Stories of Makkah: Misteri-Misteri Kota Makkah dan Madinah, Jogjakarta, 2013